Tumbilotohe Gorontalo
Tradisi Tumbilotohe Jadi Peluang Usaha Warga Gorontalo, Eman Djakaria Aktif Produksi Alikusu
Eman Djakaria, warga Kelurahan Buladu, Kecamatan Kota Barat, rajin memproduksi Alikusu—pintu gerbang adat tradisional Gorontalo
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Eman-Djakaria-warga-Kelurahan-Buladu.jpg)
Ringkasan Berita:
- Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo, yakni menyalakan lampu minyak pada malam ke-27 Ramadan sebagai simbol penerangan menjelang Lailatul Qadar, menjadi peluang usaha musiman bagi masyarakat
- Eman Djakaria, pensiunan guru di Buladu, memproduksi Alikusu—gerbang adat khas Gorontalo—untuk dijual, dengan harga Rp125 ribu per unit, dan sudah menerima pesanan dari masyarakat serta instansi
- Usaha ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya lokal
TRIBUNGORONTALO.COM – Tradisi Tumbilotohe di Provinsi Gorontalo memberikan peluang usaha bagi masyarakat.
Eman Djakaria, warga Kelurahan Buladu, Kecamatan Kota Barat, secara aktif memproduksi Alikusu—pintu gerbang adat tradisional Gorontalo yang biasa dipasang pada malam ke-27 Ramadan.
Alikusu merupakan gerbang tradisional yang terbuat dari rangka kayu dan dihiasi janur kuning atau daun kelapa muda.
Pada bagian atasnya digantung lampu botol (tohe), yang menjadi ciri khas perayaan Tumbilotohe.
Namun, Eman menjelaskan bahwa saat ini bahan hiasan mengalami sedikit perubahan.
Janur kuning diganti dengan kertas berwarna kuning agar lebih praktis dan mudah diperoleh.
Ia mulai membuat Alikusu setelah menerima desain dari Pemerintah Kota Gorontalo dan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata.
“Saya dapat desainnya, lalu konfirmasi ke Dinas Pariwisata, baru mulai bikin,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).
Eman kini memproduksi Alikusu untuk dijual kepada masyarakat.
Ia bahkan mengklaim menjadi salah satu penjual yang lebih dulu memulai produksi tahun ini.
Hal tersebut karena di beberapa lokasi yang biasanya menjual Alikusu, belum terlihat aktivitas serupa.
Saat ini, ia telah membuat sekitar 20 unit dari target 50 unit, bahkan bisa lebih jika memungkinkan.
Alikusu tersebut diminati masyarakat sekitar dan juga dipesan oleh sejumlah instansi.
“Dari kemarin sudah ada pesanan dari kantor dan sekolah,” katanya.