Human Interest Story
Kisah Yus Sahi Perintis Kopi Surplus Gorontalo: Makna Memanusiakan Manusia
Di tengah hiruk-pikuk Taman Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, yang kini hidup dengan deretan pelapak kopi jalanan, kami berkenalan dengan Yus Sahi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-pengunjung-di-Kopi-Surplus-Taman-Kota-Gorontalo.jpg)
(Penulis: Putri Salsabilah, Magang TribunGorontalo.com)
Ringkasan Berita:
- Yus Sahi, seorang sarjana Manajemen Keuangan, memilih menjadi wirausaha kopi jalanan daripada bekerja di kantor
- Dengan filosofi "memanusiakan manusia", Yus sangat memprioritaskan kesejahteraan timnya. Ia tidak pernah memotong gaji karyawan meski kedai harus tutup akibat hujan lebat
- Dimulai sejak pandemi 2020, bisnis "Kopi Surplus" miliknya kini berkembang menjadi lima cabang
TRIBUNGORONTALO.COM – Di tengah hiruk-pikuk Taman Kota, Jl Jaksa Agung Suprapto Gorontalo, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, kami berkenalan dengan Yus Sahi.
Dalam pertemuan pertama itu, pria lulusan Manajemen Keuangan angkatan 2018 ini mengaku memilih jalan berbeda dari kebanyakan rekan sejawatnya.
Alih-alih mengejar kenyamanan kursi perkantoran, Yus justru memilih untuk turun ke jalan. Baginya, ijazah sarjana bukanlah sekat yang membatasi ruang geraknya untuk berwirausaha secara mandiri, meskipun harus dimulai dari sebuah kedai pinggir jalan.
Stigma masyarakat tentang lulusan sarjana yang wajib bekerja di kantoran coba ia patahkan secara perlahan. Yus percaya bahwa gelar akademik adalah bekal pola pikir, bukan sekadar penentu lokasi kerja.
"Pekerjaan yang layak tidak diukur dari seberapa mengkilap sepatu yang kita pakai setiap hari," ungkap Yus, Rabu (11/2/2026) malam.
Menurutnya, keberanian untuk melangkah dengan apa adanya jauh lebih berharga daripada sekadar menjaga citra di mata orang lain.
Perjalanan Yus memulai bisnis kopi jalanan ini diawali dari tuntutan untuk menjadi pria yang bertanggung jawab. Ia menyadari bahwa kemandirian finansial harus segera dicapai untuk menopang masa depan.
Sebelum terjun ke dunia kopi, Yus sebenarnya sempat membuka usaha di bidang food court. Namun, dinamika pasar dan peluang yang ia lihat membawanya untuk "banting setir" ke konsep coffee street.
Keputusan besar ini diambil pada akhir tahun 2020. Saat itu, dunia sedang dihantam pandemi COVID-19 yang membuat ekonomi tidak menentu. Banyak orang memilih untuk menyimpan modal, namun Yus justru melihat sebaliknya.
Ia tidak gentar dengan situasi wabah yang sedang meningkat kala itu. Baginya, setiap krisis selalu menyisakan celah untuk ide-ide baru yang bisa dieksekusi asalkan dilakukan dengan perhitungan yang matang.
Menariknya, Yus Sahi mengaku bahwa dirinya sebenarnya bukanlah seorang pencinta kopi yang fanatik. Keterlibatannya di dunia kopi murni didasari oleh insting bisnis dan kemampuan manajemen modal yang ia pelajari.
Baca juga: Kisah Iptu Fitri S Ali Sosok Kapolsek Telaga Biru, 4 Kali Gagal Tes TNI Gorontalo
Memanusiakan Manusia Lewat Kopi
Karena merasa tidak memiliki keahlian teknis dalam meracik kopi, Yus mengambil langkah strategis sejak awal. Ia merekrut tiga orang karyawan yang memang sangat memahami karakteristik rasa kopi.
Langkah ini ia lakukan agar kualitas produk tetap terjaga. Ia ingin memastikan bahwa meskipun ia adalah pemilik modal, standar rasa kopi yang disajikan harus tetap memuaskan pelanggan setianya.
Kejujurannya akan keterbatasan diri justru menjadi kunci kesuksesan. Dengan mengandalkan tim yang ahli di bidangnya, Yus bisa fokus pada pengembangan manajerial dan ekspansi bisnis.
Hasilnya pun nyata. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, bisnis yang ia beri nama "Kopi Surplus" ini berkembang pesat. Sejak mulai serius beralih pada tahun 2025, transformasinya begitu terasa.
Kini, Yus telah mengelola lima cabang Kopi Surplus yang tersebar di beberapa titik strategis. Pertumbuhan ini tentu berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja yang ia lakukan.
Dari yang awalnya hanya dibantu tiga orang, kini Yus telah membina sepuluh orang karyawan. Baginya, pertumbuhan bisnis bukan hanya soal angka di rekening, tapi soal berapa banyak orang yang bisa ikut tumbuh bersamanya.
Filosofi "memanusiakan manusia" menjadi fondasi utama Yus dalam memimpin timnya. Ia memperlakukan karyawannya dengan memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan.
Ada aturan tidak tertulis yang ia terapkan di Kopi Surplus. Aturan ini lahir dari pengalaman pribadinya saat menjadi pekerja di masa lalu, yang seringkali merasa tertekan oleh kebijakan yang kaku.
Yus sangat memahami dinamika bekerja di ruang terbuka seperti taman kota. Ia menyadari bahwa tantangan terbesar bagi pelaku UMKM coffee street adalah faktor cuaca yang tidak menentu.
Taman Kota Gorontalo yang dulunya sepi dan sering disalahgunakan sebagai tempat yang negatif, kini berubah menjadi pusat ekonomi kerakyatan. Yus merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari perubahan positif tersebut.
Namun, berjualan di ruang terbuka artinya harus siap berhadapan dengan alam. Yus mencatat, setidaknya sudah enam kali kedainya harus berhadapan dengan hujan lebat saat jam operasional baru saja dimulai.
Banyak pedagang mungkin akan merasa kesal atau rugi saat hujan turun di waktu sibuk. Namun, Yus memilih untuk melihatnya sebagai rahmat Tuhan yang harus disyukuri dalam bentuk lain.
Baca juga: Kala Coffee, Simbol Keuletan 3 Anak Muda Gorontalo Rintis Usaha Kopi Jalanan
Jika hujan turun dan tidak memungkinkan untuk lanjut berjualan, Yus menunjukkan sisi empati yang tinggi sebagai seorang atasan. Ia seringkali meminta karyawannya untuk segera pulang agar tidak jatuh sakit.
Yang luar biasa, meskipun kedai harus tutup lebih awal karena cuaca, Yus tidak pernah memotong gaji karyawannya sedikit pun. Ia tetap memberikan hak mereka secara utuh seolah-olah penjualan berjalan normal.
Yus sangat menghargai usaha karyawannya yang sudah datang dari jauh dan bersiap untuk bekerja. Baginya, komitmen dan waktu yang mereka berikan tidak bisa dinilai hanya dari jumlah gelas yang terjual saat itu.
Kebijakan ini membuat hubungan antara Yus dan karyawannya menjadi sangat solid. Ada rasa saling memiliki (sense of belonging) yang kuat di dalam ekosistem Kopi Surplus.
Dari segi produk, Kopi Surplus tetap menjaga harga agar tetap kompetitif dan terjangkau bagi semua kalangan. Menu non-kopi dimulai dari harga Rp12.000, sementara menu kopi dalam ukuran kecil dibanderol Rp15.000.
Untuk mereka yang menginginkan porsi lebih besar, tersedia ukuran medium dengan harga Rp18.000 untuk non-kopi dan Rp20.000 untuk varian kopi. Harga ini dianggap sangat ramah di kantong masyarakat Gorontalo.
Dalam memandang kompetisi, Yus memiliki perspektif yang sangat dewasa. Ia tidak menganggap sesama pelaku UMKM kopi jalanan sebagai saingan atau musuh yang harus dijatuhkan.
Ia justru memandang rekan-rekan pedagang lainnya sebagai rekan seperjuangan yang sama-sama sedang mengadu nasib untuk menghidupi keluarga. Baginya, rezeki sudah diatur dan tidak akan tertukar.
"Iri hati hanya untuk orang-orang yang tidak merasa cukup. Saya sudah merasa sangat cukup dengan apa yang saya dapatkan sekarang," tuturnya sembari tersenyum.
Tribunners, kisah Yus Sahi adalah pengingat bahwa kesuksesan bisa tumbuh di trotoar jalanan, di tengah rintik hujan, dan di sela-sela interaksi manusia yang saling menghargai.
(Putri/Magang TribunGorontalo.com/*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.