UMKM Gorontalo
Kala Coffee, Simbol Keuletan 3 Anak Muda Gorontalo Rintis Usaha Kopi Jalanan
Berawal dari obrolan santai, tiga pemuda ini membuktikan bahwa mimpi bisa diracik dari hal sederhana hingga lahir usaha
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- Kala Coffee didirikan oleh tiga pemuda (Rahmad, Dicky, dan Reinaldi) yang terinspirasi dari kebiasaan nongkrong bareng
- Fokus utama mereka adalah menjaga kualitas rasa sebagai kunci utama daya saing kopi jalanan
- Nama "Kala" diambil dari kata yang berarti waktu, dengan visi agar kopi mereka hadir di setiap momen pelanggan
TRIBUNGORONTALO.COM – Kala Coffee menjadi simbol keuletan anak muda Gorontalo dalam merintis usaha kopi jalanan.
Berawal dari obrolan santai, tiga pemuda ini membuktikan bahwa mimpi bisa diracik dari hal sederhana hingga lahir usaha yang kini dikenal banyak orang.
Berangkat dari kegemaran nongkrong dan minum kopi, Kala Coffee hadir sebagai kedai kopi street yang mangkal di Terminal Pasar Sentral Kota Gorontalo.
Usaha ini digagas oleh Rahmad Aditya R. Doda (21), warga Dulomo Utara, Kota Utara; Dicky Erlangga Putra Kalapati (21), pemuda asal Kelurahan Limbau Dua, Kota Gorontalo; serta Reinaldi Moputi (24), pemuda asal Tabo’o Kabupaten Gorontalo.
Meski berasal dari latar belakang berbeda, ketiganya dipertemukan oleh satu kesamaan: keinginan memiliki usaha sendiri.
Ide mendirikan Kala Coffee muncul tanpa rencana besar, hanya dari kebiasaan berkumpul dan nongkrong bersama.
“Kami ini awalnya cuma ngobrol santai. Iseng-iseng bahas, kenapa tidak coba bikin kopi street saja,” ujar Dicky, Senin (2/2/2026).
Dengan bekal pengalaman kerja dan sedikit pengetahuan tentang dunia kopi, mereka mulai menyusun konsep sederhana, termasuk pembagian peran. Nama Kala Coffee dipilih karena mudah diingat, sekaligus menyimpan filosofi tentang waktu. “Kala” dimaknai sebagai masa, di mana kopi hadir di setiap momen kehidupan.
Awal berjualan, Kala Coffee membuka lapak sederhana di area Terminal Pasar Sentral Kota Gorontalo.
Seiring berjalannya waktu, mereka memilih bertahan di dalam terminal, di tengah hiruk-pikuk aktivitas ekonomi kota. Lokasi strategis ini memberi peluang sekaligus tantangan, karena persaingan dengan pedagang lain cukup ketat.
Dalam operasionalnya, Kala Coffee buka setiap hari pukul 07.00–13.00 Wita, dengan hari Minggu sebagai waktu libur. Konsep yang diusung menitikberatkan pada rasa, bukan kemewahan tempat. “Kalau kopi jalanan, yang paling penting itu rasa. Tempat itu nomor dua,” kata Rahmad.
Meski omzet sempat fluktuatif, mereka melihatnya sebagai proses belajar. Budaya kopi street yang kian menjamur di Gorontalo menjadi ruang tumbuh bagi usaha kecil seperti Kala Coffee.
Baca juga: Kisah Muh Ardiansah, Usaha Kopi Jadi Penopang Kuliah S2 di Gorontalo
“Kami sadar sekarang kopi street sudah banyak di Gorontalo. Tapi
kopi street sudah banyak di Gorontalo. Tapi kami yakin setiap usaha punya ceritanya sendiri,” tambah Dicky. (*)