Human Interest Story
Sosok Agus Priono Adada, Anak Sopir Bentor Jadi Kanit Turjawali Satlantas Polresta Gorontalo Kota
Agus Priono Adada tidak lahir dari keluarga berada. Ia tumbuh di Gorontalo sebagai anak seorang sopir becak motor
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-Agus-Priono-Adada.jpg)
Ringkasan Berita:
- Agus tumbuh dengan pesan orang tua untuk hidup jujur, rendah hati, dan tidak malu dengan kesederhanaan
- Lulus Bintara Polri tahun 2006, bertugas di Sabhara lalu Satlantas selama 14 tahun
- Kehilangan orang tua mengajarkan sabar dan ikhlas
TRIBUNGORONTALO.COM – Agus Priono Adada tidak lahir dari keluarga berada. Ia tumbuh di Gorontalo sebagai anak seorang sopir becak motor (bentor) dan ibu yang membuka warung kecil di rumah.
Kedua orang tuanya kini telah meninggal dunia. Namun kesederhanaan hidup yang dijalani sejak kecil justru membentuk cara Agus memandang kerja, tanggung jawab, dan pengabdian.
“Saya ini anak tukang bentor. Bapak tiap hari menarik bentor, mama jualan di warung kecil. Hidup kami sederhana sekali, tapi dari situ saya belajar jangan malu dengan keadaan. Yang penting mau sekolah dan mau berusaha,” ujar Agus saat ditemui TribunGorontalo.com di ruang kerjanya, Sabtu (17/1/2026).
Sejak duduk di bangku SMA, Agus sudah memendam keinginan menjadi anggota Polri. Meski demikian, orang tuanya tidak pernah memaksakan pilihan hidup.
“Bapak dan mama tidak pernah bilang harus jadi polisi atau harus jadi apa. Mereka hanya berpesan, kalau itu memang cita-citamu, jalani dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Kalau tidak tercapai juga tidak apa-apa, yang penting hidup jujur dan tidak merugikan orang,” tuturnya.
Setelah lulus SMA pada 2004, Agus mendaftar sebagai calon anggota Polri. Dua tahun kemudian, usahanya membuahkan hasil. Pada 2006, ia dinyatakan lulus sebagai Bintara dan mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN), tergabung dalam angkatan 2006 gelombang pertama.
Kariernya dimulai pada 2007 di Direktorat Sabhara Polda Gorontalo. Setahun kemudian, ia dimutasi ke Polresta Gorontalo Kota. Pada 2009, ia ditempatkan di Satuan Lalu Lintas, tempat ia mengabdi selama hampir 14 tahun.
“Panas, hujan, macet, kecelakaan, sudah jadi makanan sehari-hari,” ucapnya.
Di tengah perjalanan karier, Agus harus menerima kenyataan pahit kehilangan kedua orang tuanya.
“Ibu saya sempat sakit cukup lama sebelum akhirnya meninggal dunia. Di situ saya belajar tentang sabar dan ikhlas. Sebagai anak rasanya berat, tapi saya percaya orang tua selalu ingin anaknya tetap melangkah maju, bukan berhenti karena sedih,” tuturnya pelan.
Pesan orang tuanya tentang hidup jujur dan rendah hati masih ia pegang hingga kini.
Selama bertugas di lalu lintas, Agus banyak belajar tentang karakter manusia.
“Di jalan itu kita bertemu semua jenis orang. Ada yang marah, panik, takut, ada juga yang berterima kasih. Dari situ saya sadar, polisi bukan hanya soal aturan, tapi juga soal bagaimana bersikap,” ujarnya.
Menurutnya, seragam polisi membuat setiap tindakan mudah dinilai masyarakat.
“Kalau kita bicara kasar, orang ingat lama. Kalau kita menolong dengan baik, orang juga ingat lama. Jadi sikap itu penting, bukan cuma kemampuan,” katanya.
Pengalaman panjang itu membawanya mengikuti Sekolah Inspektur Polisi (SIP) pada 2024. Ia lulus dalam SIP angkatan 53 gelombang pertama. Pada Februari 2025, Agus dipercaya menjabat sebagai Kanit Turjawali Satlantas Polresta Gorontalo Kota.
“Jabatan ini saya anggap amanah. Bukan soal posisi, tapi tanggung jawabnya. Apalagi anggota banyak yang masih muda, jadi kita harus bisa jadi contoh dalam cara kerja dan cara bersikap,” ujarnya.
Agus kini telah berkeluarga dan memiliki tiga anak. Dua anaknya masih duduk di bangku SD dan satu di SMP.
“Kalau pulang capek lalu lihat anak-anak, rasanya capek langsung hilang. Mereka yang bikin saya ingat kenapa harus kerja baik-baik dan tidak macam-macam,” katanya.
Ia berharap anak-anaknya kelak tidak minder dengan latar belakang keluarga.
“Saya selalu bilang ke mereka, jangan malu kalau hidup sederhana. Yang penting jujur dan mau belajar. Kalau itu dipegang, insyaallah ada jalan,” ucapnya.
Baca juga: Profil Reflin Buata, Kepala Dinas Sosial dan Dukcapil Provinsi Gorontalo
Riwayat Jabatan Agus Priono Adada
2006: Bintara Polri
2007: Dit Sabhara Polda Gorontalo
2008: Polresta Gorontalo Kota
2009–2023: Banit Satlantas Polresta Gorontalo Kota
2024: Lulus SIP 53 Gelombang I
2025: Ditlantas Polda Gorontalo
Februari 2025–sekarang: Kanit Turjawali Satlantas Polresta Gorontalo Kota
Pesan untuk Anak Muda Gorontalo
Agus tidak menyebut dirinya sebagai orang sukses besar. Namun ia yakin setiap orang punya kesempatan mengubah hidupnya.
“Saya hanya ingin anak-anak muda di Gorontalo tahu, latar belakang keluarga bukan penentu akhir. Mau orang tua kita siapa, kerja apa, itu bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” katanya.
Ia menambahkan, cita-cita apa pun mulia selama bermanfaat bagi banyak orang.
“Kalau mau belajar, mau kerja keras, dan tidak cepat menyerah, pasti ada jalan. Tidak harus jadi polisi, jadi apa saja yang penting halal dan bermanfaat,” ujarnya.
Tribunners, itulah profil singkat Agus Priono Adada yang kini menjabat Kanit Turjawali Satlantas Polresta Gorontalo Kota.
Perjalanan Agus Priono Adada menjadi potret bahwa ketekunan, nilai keluarga, dan konsistensi dalam bekerja adalah modal utama untuk melangkah lebih jauh.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.