Berita Gorontalo
Dulu Ramai Tiap Malam, Kini Pedagang Kalimadu Kota Gorontalo Keluhkan Sepi Pengunjung
Kawasan Kuliner Kalimantan Madura (Kalimadu) di Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, yang dulu dikenal sebagai pusat keramaian malam hari,
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KALIMADU-Potret-kawasan-kuliner-Jl-Kalimantan-dan-Jl-Madura-Kalmadu.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kawasan Kuliner Kalimantan Madura (Kalimadu) di Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, yang dulu dikenal sebagai pusat keramaian malam hari, kini menunjukkan wajah berbeda.
Suasana yang dahulu hiruk-pikuk dengan pengunjung kini berganti lengang, bahkan terkesan sunyi di jam-jam yang biasanya ramai.
Keluhan para pedagang soal menurunnya jumlah pengunjung ramai beredar di media sosial dalam beberapa pekan terakhir.
Isu parkir, penataan lapak, hingga pelaksanaan program Car Free Night (CFN) disebut-sebut menjadi pemicu utama lesunya aktivitas jual beli di kawasan tersebut.
Pada Kamis (15/1/2026) sore, TribunGorontalo.com mendatangi langsung kawasan Kalimadu untuk melihat kondisi di lapangan.
Baca juga: Rekrutmen Petugas Pendukung Haji 2026, Mahasiswa Bisa Daftar, Ini Syarat dan Jadwal Seleksinya!
Sekitar pukul 16.45 Wita, sejumlah pedagang tampak baru mulai membuka lapak. Ada yang menyusun kursi plastik, ada pula yang sibuk menata etalase makanan dan minuman.
Aroma kuliner mulai tercium tipis dari beberapa sudut kawasan. Namun hingga azan Magrib berkumandang, jumlah pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari.
Beberapa pembeli terlihat hanya singgah sebentar, membeli minuman, lalu berlalu tanpa berlama-lama.
Deretan kursi di sejumlah booth tampak kosong. Lampu-lampu lapak belum seluruhnya menyala.
Di beberapa titik, terlihat booth tertutup rapat dengan gembok, sebagian catnya mulai pudar, menandakan sudah lama tidak beroperasi.
Muh. Fahri Katjong (25), pedagang macha kocok, mengatakan kondisi sepi tersebut bukanlah hal baru.
Baca juga: Pesawat Rute Djalaludin Gorontalo ke Pohuwato Sepi Penumpang, Diduga Warga Masih Trauma
“Bukan baru satu dua minggu. Ini sudah berbulan-bulan,” katanya saat diwawancarai di sela-sela aktivitas membuka lapak.
Fahri mengaku, sebelum adanya penataan kawasan dan pelaksanaan Car Free Night, omzetnya relatif stabil.
“Dulu saya bisa dapat Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per malam. Itu hari biasa, bukan malam Minggu,” ujarnya.
Namun setelah penataan dan penerapan CFN, pendapatannya turun drastis.
“Sekarang di bawah Rp200 ribu saja sudah syukur. Kadang tidak sampai Rp100 ribu,” ucapnya.
Kondisi tersebut membuat Fahri kini takut membawa stok terlalu banyak.
“Kalau bawa banyak, sering tidak habis. Pernah teman saya jual mie ayam, buka dari jam 5 sore sampai jam 11 malam, yang laku cuma dua porsi. Sekitar Rp30 ribu,” katanya pelan.
Menurut Fahri, penataan kawasan sebenarnya bukan masalah utama bagi pedagang.
“Kami tidak mempersoalkan penataannya. Tapi setelah CFN kok justru tambah sepi. Padahal ini disebut event,” ujarnya.
Ia menilai, sebuah event seharusnya memberi dampak positif bagi perputaran ekonomi pedagang kecil.
“Kalau event tapi tidak menggerakkan UMKM, buat apa,” katanya.
Fahri juga menyoroti banyaknya booth yang kini memilih tutup.
“Ada yang tutup karena kalah modal. Bahan makanan kan ada yang cepat basi. Kalau tidak laku, rugi terus,” ucapnya.
Ia menyebut para pedagang sempat membentuk grup diskusi untuk membahas kondisi tersebut.
“Kami mau ajukan diskusi ke pemerintah. Tapi saya bilang, kita juga harus lihat kondisi kawasan ini sekarang gelap. Yang terang cuma malam Kamis atau malam Minggu, itu pun kalau tidak hujan,” katanya.
Soal penyebab sepinya pengunjung, Fahri menyebut persoalan parkir menjadi salah satu keluhan yang paling sering disampaikan pembeli.
“Ada pembeli bilang, sekali beli bayar parkir Rp3.000, pindah beli lagi di booth lain bayar lagi. Harusnya kan satu karcis,” ujarnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.