Sabtu, 21 Maret 2026

Berita Gorontalo

Dulu Ramai Tiap Malam, Kini Pedagang Kalimadu Kota Gorontalo Keluhkan Sepi Pengunjung

Kawasan Kuliner Kalimantan Madura (Kalimadu) di Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, yang dulu dikenal sebagai pusat keramaian malam hari,

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba

Masalah Parkir Dikeluhkan Pedagang Kalimadu

MALAM HARI -- Potret malam hari di Kalimadu Kota Gorontalo pada Kamis 15 Januari 2025.

Menurutnya, hal-hal kecil seperti itu bisa memengaruhi minat orang untuk datang.
“Orang mau nongkrong jadi mikir-mikir. Yang mau mampir sebentar pun tetap mereka pertimbangkan,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Jihan Ayu (27), pedagang risol. Ia mengaku perubahan mulai terasa sejak kawasan tersebut ditertibkan.
“Awalnya di sini tidak ada pengaturan parkir. Terus ditertibkan, booth diminta mundur ke belakang, penerangan juga kurang,” ujarnya.

Menurut Jihan, kondisi itu berdampak besar terhadap jumlah pengunjung.
“Kelihatan sekali bedanya. Dulu rame, sekarang sangat berkurang,” katanya.

Penurunan omzet pun tak terelakkan.
“Dulu bisa bawa pulang Rp500 ribu sampai Rp600 ribu per hari,” ucapnya.

Kini, pendapatannya jauh dari angka tersebut.
“Kadang Rp100 ribu, kadang kalau lumayan bisa Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Itu pun biasanya malam Minggu atau Minggu sore,” katanya.

Ia menyebut kondisi ini mengganggu perputaran modal harian.
“Kami harus pintar-pintar putar otak supaya tetap jualan tapi tidak rugi,” ujarnya.

Kerugian akibat bahan makanan basi juga kerap dialami.
“Beberapa kali stok tidak habis, sudah tidak layak jual, terpaksa dibuang,” katanya.

Jihan berharap ada perhatian lebih dari Pemerintah Kota Gorontalo terhadap pelaku UMKM di kawasan Kalimadu.
“Kami ingin juga diperhatikan seperti UMKM di sentra lain atau yang di depan kantor wali kota,” ucapnya.

Menurut dia, CFN merupakan program pemerintah sehingga seharusnya dievaluasi bersama pedagang.
“Kami tidak pernah diajak diskusi soal dampaknya. Padahal bisa dilihat sendiri, sudah banyak yang tutup,” katanya.

Ia juga menyinggung soal parkir berlangganan yang mulai diterapkan di sejumlah titik kota.
“Sampai sekarang belum ada peningkatan pengunjung. Masih sama saja seperti setahun belakangan,” ujarnya.

Keluhan senada diungkapkan Rian Mahmud (32), pedagang minuman dingin yang sudah lama berjualan di Kalimadu. Saat ditemui, Rian sedang membersihkan gelas plastik di lapaknya yang tampak sepi tanpa pelanggan.

“Dulu jam segini sudah ada yang duduk-duduk,” katanya sambil menunjuk kursi kosong di depannya.

Ia mengaku omzetnya turun lebih dari separuh.
“Kalau dulu bisa Rp400 ribu lebih, sekarang paling Rp150 ribu. Itu kalau ada yang beli,” ujarnya.

Rian menyebut beberapa rekannya sudah memilih berhenti berjualan.
“Ada yang angkat booth, ada yang tidak sanggup bayar modal lagi,” katanya.

Ia berharap Kalimadu tidak hanya dijadikan lokasi event sesekali.
“Kalau mau hidup, harus rutin. Event-nya juga yang cocok dengan anak muda, yang suka nongkrong,” ucapnya.

Pantauan TribunGorontalo.com hingga pukul 18.45 Wita menunjukkan arus pengunjung masih sangat minim. Di sepanjang jalur utama kawasan, hanya terlihat beberapa sepeda motor terparkir. Suara kendaraan yang melintas justru lebih dominan dibanding percakapan pengunjung.

Beberapa pedagang tampak hanya duduk diam menunggu pembeli. Ada yang sibuk dengan ponsel, ada pula yang berbincang pelan dengan pedagang di sebelahnya. Lampu jalan di beberapa titik terlihat redup, membuat sebagian area tampak kurang terang saat malam mulai turun.

Kondisi tersebut kontras dengan cerita para pedagang tentang ramainya Kalimadu beberapa tahun lalu, ketika hampir setiap kursi terisi dan aroma makanan memenuhi seluruh kawasan.

Kini, harapan para pedagang sederhana: kawasan kembali hidup, pengunjung kembali datang, dan usaha kecil mereka bisa terus bertahan.
(*Jefri)

Halaman
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved