Gorontalo Hari Ini
Sempat Bikin Wali Kota Gorontalo Geram, RS Multazam Jawab Isu Tolak Pasien
Manajemen RS Multazzam Kota Gorontalo memberikan klarifikasi terkait keluhan pelayanan medis yang melibatkan seorang pasien berinisial HN (64).
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Direktur-RS-Multazzam-Renny-Ibrahim-saat-ditemui-wartawan.jpg)
Ringkasan Berita:
- RS Multazzam menjawab isu dugaan penolakan terhadap pasien
- Sebelumnya, Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea geram mendengar keluhan warga
- Pihak rumah sakit menegaskan terbuka terhadap kritik dan saran
TRIBUNGORONTALO.COM – Manajemen RS Multazam Kota Gorontalo memberikan klarifikasi terkait keluhan pelayanan medis yang melibatkan seorang pasien berinisial HN (64).
Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh Direktur RS Multazam, Renny Ibrahim, dalam konferensi pers pada Selasa (25/11/2025).
Renny menjelaskan, pasien pertama kali datang pada Jumat, 21 November 2025, sekitar pukul 11.00 Wita melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Saat tiba, pasien mengeluhkan buang air besar cair yang dialami beberapa kali sejak pagi. Setelah dilakukan pemeriksaan, kondisi pasien dinyatakan stabil.
Hasil pemeriksaan mencatat tekanan darah 120/80, nadi 87, respirasi 22, suhu tubuh 36 derajat, dan saturasi oksigen 99 persen.
Pasien juga dalam keadaan sadar dan masih bisa berjalan tanpa bantuan alat.
“Pasien datang diantar dengan bentor (becak motor), masih berjalan sendiri, naik ke ranjang pemeriksaan juga tanpa bantuan,” ujar Renny.
Namun, pada hari yang sama, ruang rawat inap RS Multazzam dalam kondisi penuh.
Hal itu membuat keluarga pasien sempat mempertimbangkan mencari layanan kesehatan lain.
Menurut pihak rumah sakit, perawat sempat memberikan referensi alternatif fasilitas kesehatan terdekat, seperti RS Siti Khadijah dan RS Bioklinik.
Baca juga: BREAKING NEWS: Daniel Ibrahim Bakal Dinonaktifkan dari Kadispora Gorontalo Imbas Polemik Medali GHM
“Kami menanggapi pihak keluarga saat melihat kamar penuh. Mereka ingin ke rumah sakit lain, jadi kami sarankan yang dekat dari sini,” jelas Renny.
Keluarga kemudian memutuskan pulang terlebih dahulu sebelum kembali mengonfirmasi ketersediaan kamar.
Setelah salat Jumat, keluarga pasien kembali datang untuk mengecek ruang perawatan.
Saat itu, ruang kelas tiga laki-laki memiliki enam tempat tidur, namun hanya dua yang bisa digunakan karena plafon masih dalam perbaikan.