Maulid Nabi di Gorontalo
Ratusan Warga Antre Kue Walima di Masjid Agung Baiturrahim Gorontalo Saat Maulid Nabi
Ratusan warga Gorontalo padati Masjid Agung Baiturrahim sejak subuh untuk antre kue walimah pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Prailla Libriana Karauwan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Walima-maulid-nabi.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Ratusan warga Gorontalo memadati Masjid Agung Baiturrahim sejak subuh untuk mengantre kue walima pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Jumat (5/9/2025).
Kawasan yang sepi ini berubah menjadi riuh, payung-payung terbuka.
Walima secara harfiah berarti jamuan atau pesta dalam bahasa Arab.
Jika diartikan secara umum yakni pembagian kue dan hidangan kepada jamaah sebagai bentuk syukur dan sedekah.
Acara ini biasanya dimulai setelah rangkaian zikir, doa, dan ceramah Maulid, melibatkan warga, termasuk anak-anak dan lansia.
Walima tidak sekadar jamuan makanan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi, menjaga kearifan lokal, dan menanamkan nilai kebersamaan.
Tradisi walima setiap maulid Nabi Muhammad SAW sudah berlangsung turun-temurun di Gorontalo.
Dalam praktiknya, walima merujuk pada tataan kue-kue tradisional yang disusun pada nampan besar (sering dihias kain, janur, atau ornamen khas), kemudian dibagikan sebagai bentuk sedekah kepada jamaah setelah rangkaian zikir dan doa.
Para tokoh adat setempat pernah menyampaikan bahwa tradisi ini tumbuh seiring menguatnya dakwah Islam di Gorontalo kue dan jamuan menjadi media perekat sosial mengundang warga berkumpul di masjid, mengikuti zikir, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan.
Di dalamnya ada pesan syukur, berbagi, dan pemuliaan tamu.
Ornamen bambu kuning yang lazim dipakai melambangkan kesederhanaan, ketangguhan, dan kearifan lokal.
Seiring waktu, walima tidak semata urusan hidangan, melainkan identitas budaya yang menyatukan adat (adat bersendi syara’) dan ajaran agama.
Karena itu, pembagian kue dilakukan tertib dan bertahap, menegaskan nilai keteraturan, keadilan, dan saling menghormati yang diwariskan dalam tradisi setempat.
Pantauan TribunGorontalo.com, di tahun ini Masjid Agung Baiturrahim yang terletak di Jalan Nani Wartabone, Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo kembali menjadi pusat pelaksanaan tradisi tersebut.
Panitia menerapkan jalur satu arah agar tertib, sementara aparat kepolisian, TNI, dan Satpol PP turut menjaga keamanan.