Selasa, 31 Maret 2026

Warga Gorontalo Hanyut

Kenangan Terakhir Sumitra sebelum Hilang di Sungai Paguyaman Gorontalo, Sempat Video Call

Kenangan terakhir Sumitra Isini (26) sebelum hilang di Sungai Paguyaman, Gorontalo, masih membekas kuat di hati keluarga.

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Kenangan Terakhir Sumitra sebelum Hilang di Sungai Paguyaman Gorontalo, Sempat Video Call
Istimewa
KORBAN HANYUT -- Kolase foto Sumitra Isini dan warga bersama polisi saat mencari orang hanyut. Sumitra memiliki kenangan terakhir bersama keluarganya di Desa Ambara. 
Ringkasan Berita:
  • Sehari sebelum hanyut, Sumitra sempat melakukan video call dengan keluarga di Desa Ambara
  • Sumitra dikenal pendiam, baik hati, dan aktif membantu warga sekitar meski berstatus pendatang
  • Saat menyeberangi Sungai Motoduto bersama anaknya Akbar, arus deras memisahkan mereka

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Kenangan terakhir Sumitra Isini (26) sebelum hilang di Sungai Paguyaman, Gorontalo, masih membekas kuat di hati keluarga.

Sehari sebelum tragedi, ia sempat melakukan panggilan video dengan kerabat di Desa Ambara, memperlihatkan kondisi neneknya, sekaligus menyampaikan rencana panen jagung. Percakapan singkat itu kini menjadi memori terakhir yang tersisa.

Sumitra hanyut bersama anaknya, Akbar Diangi (9), saat menyeberangi muara di Sungai Paguyaman. Ia dikenal sebagai ibu rumah tangga yang pendiam, penuh kepedulian, dan dekat dengan lingkungan sekitar.

Kepala Desa Motoduto, Djafar Ujaili, menyebut Sumitra dan anaknya berasal dari Desa Ambara, Kecamatan Dungaliyo.

Meski berstatus pendatang, mereka telah lama menetap di Motoduto karena memiliki lahan jagung di sana. Djafar menuturkan, rumah korban berada tepat di belakang rumahnya sehingga ia mengenal Sumitra secara pribadi.

“Korban ini orang baik,” kata Djafar singkat, mengenang sosok yang kerap membantu tanpa diminta.

Salah satu kenangan yang melekat, Sumitra sering memanen pisang milik Djafar lalu menyerahkannya langsung ke rumah.

Ia juga aktif membantu warga saat ada pesta, terutama di dapur, hingga acara selesai. Kehadirannya membuat warga merasa dekat, meski ia bukan asli warga Motoduto.

“Kalau ada kegiatan sosial, dia selalu ikut,” tambah Djafar.

Baca juga: Sosok Sumitra Isini Korban Hanyut di Gorontalo, Dikenal Baik dan Pendiam

Kenangan dari Keluarga

KORBAN HANYUT -- Kolase foto Sumitra Isini, korban hanyut bersama anaknya di Sungai Paguyaman, Kabupaten Gorontalo. Sumitra dikenal pendiam.
KORBAN HANYUT -- Kolase foto Sumitra Isini, korban hanyut bersama anaknya di Sungai Paguyaman, Kabupaten Gorontalo. Sumitra dikenal pendiam. (Facebok)

Tante korban, Asna Diangi (43), menyebut Sumitra sebagai sosok pendiam yang hanya berbicara bila diajak. Menurut Asna, Sumitra sempat melakukan video call sehari sebelum kejadian. 

Dalam panggilan itu, ia memperlihatkan kondisi neneknya di Ambara. Sumitra juga menyampaikan rencana panen jagung bersama keluarga.

“Masih sempat VC lihat kondisi Oma,” kenang Asna.

Ucapan itu kini menjadi pengingat terakhir sebelum Sumitra hilang terbawa arus. Keluarga berharap pencarian segera membuahkan hasil.

“Semoga korban dan anaknya segera ditemukan,” harap Asna penuh doa.

Video call tersebut kini dianggap sebagai kenangan terakhir yang tak ternilai. Bagi keluarga, kehilangan ini terasa begitu mendadak.

Kronologi Kejadian

Kasi Humas Polres Gorontalo, AKP Wawan Suryawan, menjelaskan peristiwa terjadi Sabtu (3/1/2026) sekitar pukul 15.00 Wita.

Polsek Boliyohuto menerima laporan adanya warga hanyut di Sungai Motoduto. Tiga orang dilaporkan terlibat, satu selamat, dua hilang.

Korban selamat adalah Yasin Isini (50), petani asal Desa Ambara. Sedangkan Sumitra dan Akbar masih dalam pencarian hingga kini.
Berdasarkan keterangan saksi, ketiganya baru pulang dari kebun jagung.

Mereka hendak menyeberangi sungai yang saat itu berarus deras. Posisi mereka berurutan: Yasin di depan, Sumitra di tengah, Akbar di belakang.

Saat di tengah sungai, Akbar berteriak memanggil ibunya karena tak kuat menahan arus. Sumitra melepaskan pegangan dari Yasin untuk menolong anaknya.

Namun arus deras memisahkan mereka, menyeret Sumitra dan Akbar. Yasin berhasil selamat dengan berpegangan pada batang kayu di tepi sungai.

Sementara Sumitra dan Akbar hilang terbawa arus menuju Sungai Paguyaman. Pencarian segera dilakukan oleh Polsek, Koramil, dan warga setempat.

Tim Basarnas tiba sekitar pukul 19.30 Wita untuk bergabung dalam operasi SAR. Fokus pencarian diarahkan ke titik terakhir korban terlihat.

Tim menyusuri aliran Sungai Motoduto hingga ke Sungai Besar Paguyaman. Dua potong pakaian ditemukan: celana biru milik Akbar dan kemeja cokelat milik Sumitra.

Baca juga: GORONTALO UPDATE - Video Pencarian Ibu dan Anak Hanyut di Sungai Paguyaman

Namun hingga malam, korban belum berhasil ditemukan. Operasi dihentikan sementara karena kondisi gelap dan berbahaya.
Pencarian dilanjutkan esok pagi dengan melibatkan tim gabungan.

Suami korban, Rinto Dayangi, juga ikut membantu pencarian.

Kepala Desa Djafar membenarkan bahwa keluarga korban memang berdomisili di Motoduto. Hingga hari keempat, pencarian masih berlangsung tanpa hasil pasti.

Warga dan keluarga terus menunggu kabar baik dari tim SAR. Kenangan terakhir berupa video call kini menjadi pengingat betapa singkatnya pertemuan terakhir.

Sosok Sumitra dikenang sebagai ibu penuh kasih yang rela berkorban demi anaknya. Tragedi ini menjadi pelajaran bagi warga untuk lebih waspada saat beraktivitas di sungai.

Sungai Paguyaman kini menyimpan kisah pilu tentang seorang ibu dan anak yang hilang. Doa dan harapan terus dipanjatkan agar pencarian segera menemukan titik terang.

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved