Gorontalo Krisis BBM
Sopir Ojol Gorontalo Resah, Kelangkaan Pertalite Picu Antrean Panjang di SPBU
Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Gorontalo
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Antrean-kendaraan-di-SPBU-Desa-Luhu.jpg)
Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Jalan Nani Wartabone, Kota Gorontalo.
Warga terpaksa rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya jenis Pertalite.
Kondisi ini kontras dengan jenis Pertamax yang relatif lancar. Namun, ketika malam tiba, antrean juga terjadi karena stok Pertalite seringkali sudah lebih dulu habis.
Situasi ini membuat warga, baik pekerja maupun pengguna harian, kesulitan mengatur jadwal aktivitas mereka.
Aldi Panigoro, seorang pengemudi bentor konvensional di Kota Gorontalo, mengaku sangat terganggu dengan kondisi ini.
“Beberapa minggu ini, untuk mengantre Pertalite memakan waktu cukup lama, bahkan bisa sejam lebih,” ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Rabu (1/10/2025).
Meskipun masih bisa mendapatkan BBM karena banyaknya SPBU di Kota Gorontalo, waktu yang terbuang sia-sia sangat mengganggu pekerjaannya.
“Alhamdulillah kalau di Kota Gorontalo masih bisa dapat. Cuma antreannya itu yang lama sekali,” tambahnya.
Rasa frustrasi serupa dialami Dian Akuba, warga Kota Selatan. Ia mengaku kini jarang mengisi BBM di SPBU karena antrean yang tak kunjung usai.
“Biasanya saya isi di SPBU karena memang lebih murah dibanding depot. Tapi karena antreannya panjang, terpaksa saya isi di depot meskipun harganya mahal,” jelas Dian, menunjukkan dampak kenaikan biaya transportasi.
Armin Hasan, pengemudi bentor online dari Kota Tengah, menilai antrean di Kota Gorontalo masih tergolong lebih baik dibandingkan wilayah tetangga.
Baca juga: Kadis Perindag Kabupaten Gorontalo Beberkan Strategi Pengelolaan Pasar hingga Hilirisasi Komoditas
“Kota Gorontalo masih lumayan. Kalau di Telaga, Kabupaten Gorontalo, antreannya parah sekali. Saya pernah antar penumpang ke sana, antre BBM lamanya bukan main,” ungkapnya.
Armin menyarankan agar warga memilih waktu pengisian di siang hari, karena antrean cenderung lebih sedikit dibanding pagi atau sore. “Kalau pagi antre sekali. Jadi saya tunggu siang, biasanya lebih sepi. Stok BBM juga masih cukup sampai malam,” katanya.
Fenomena kelangkaan ini bahkan dilaporkan meluas hingga Kabupaten Pohuwato, di mana informasi menyebutkan harga bensin di depot naik drastis, mencapai Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per liter.
Kelangkaan BBM di Gorontalo bukan yang pertama kali terjadi, dan kondisi ini menimbulkan keresahan luas karena kendaraan adalah sarana utama warga untuk bekerja dan beraktivitas sehari-hari.
Masyarakat berharap Pertamina dan pemerintah daerah segera memberikan solusi permanen agar distribusi berjalan lancar.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu/Jefry Potabuga)