Guru Tampar Siswa Gorontalo
Kronologi Guru Diduga Tampar Siswa di Gorontalo, Berawal dari Debt Collector Datang ke Sekolah
Reymond Panigoro, orang tua korban, akhirnya angkat bicara dan menjelaskan kronologi lengkap yang dialami anaknya.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-seorang-siswa-menangis-di-sekolah.jpg)
“Saya sempat ke Polsek, awalnya mau mediasi. Tapi saya tetap berkeras, karena Dinas Pendidikan sudah ambil langkah dulu. Saya ingin lihat prosesnya. Kalau nanti saya kurang puas, saya siap lanjutkan proses hukum,” ucapnya.
Yang membuatnya semakin kecewa adalah sikap guru yang bersangkutan.
“Memang sudah bertemu saya, tapi tidak ada kata-kata merasa bersalah. Tidak ada penyampaian maaf, apalagi penyesalan. Jadi bagi saya, itu semakin menyakitkan,” tegasnya.
Sebagai orang tua, Reymond merasa dikhianati oleh kepercayaan yang ia berikan kepada sekolah.
“Saya sudah kasih kepercayaan ke guru sebagai pengganti orang tua di sekolah. Tapi kejadian ini membuat hati kami terluka,” pungkasnya.
Baca juga: BREAKING NEWS: Guru SD di Gorontalo Dilaporkan ke Polisi Usai Diduga Tampar Siswa
Tanggapan pihak sekolah
Kepala SDN 2 Batudaa, Faisal Bima, membenarkan adanya laporan keributan di kelas pada Jumat (19/9/2025) lalu.
Namun, ia mengaku terkejut saat tahu insiden yang diduga melibatkan pemukulan siswanya itu telah dilaporkan ke polisi oleh orang tua korban.
"Terus terang saya kaget. Belum sempat kami lakukan klarifikasi internal, masalah ini sudah langsung masuk ranah hukum,” ungkap Faisal saat dikonfirmasi TribunGorontalo.com, Jumat (26/9/2025).
Faisal Bima menuturkan bahwa setelah keributan di kelas mereda, ia didatangi oleh orang tua siswa yang diduga menjadi korban, Reymond Panigoro, yang menyampaikan bahwa anaknya telah ditampar oleh guru.
Faisal mengaku telah berupaya menenangkan suasana dan mengusulkan agar persoalan diselesaikan melalui mediasi secara baik-baik.
“Saya katakan, mari kita bicarakan baik-baik. Tapi karena waktu itu sudah mau salat, saya usulkan nanti setelah ibadah atau di Senin. Namun rupanya orang tua langsung memilih melapor ke Polsek Batudaa,” jelas Faisal.
Faisal sendiri menegaskan bahwa ia tidak melihat langsung dugaan pemukulan itu. Ia baru mengetahui bahwa ia ditelepon oleh pihak kepolisian karena laporan telah masuk, sesaat setelah ia pulang dari kegiatan PGRI.
(Tribungorontalo.com/Jefry Potabuga)