Berita Kabupaten Gorontalo
Baru 6 Kali Panen, Petani Tomat di Gorontalo Raup Puluhan Juta
Mudzakir Hagu, seorang petani asal Desa Pertama, Kecamatan Paguyaman, kini sukses bertani tomat di Desa Bulila, Kecamatan Telaga
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mudzakir-Hagu-Petani-Tomat-di-Desa-Bulila.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Mudzakir Hagu, seorang petani asal Desa Pertama, Kecamatan Paguyaman, kini sukses bertani tomat.
Meskipun berdomisili di Kabupaten Bone Bolango, Mudzakir mengolah lahan seluas satu hektar di Desa Bulila, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo.
Tiga bulan lalu, ia menanam tomat varietas Serpo F1. Tanamannya tumbuh subur dan hijau, berbuah lebat, dan kini mulai memasuki masa panen. Hingga saat ini, panen sudah dilakukan enam kali.
"Ini sudah panen. Hari ini pemetikan yang keenam kalinya," ujar Mudzakir, Rabu (10/9/2025).
Panen dilakukan setiap dua hari sekali. Dari enam kali pemetikan, ia berhasil mengumpulkan sekitar 7 ton atau 1.000 kantong tomat.
Dengan harga jual rata-rata Rp35.000 per kantong (berat 7 kg), Mudzakir sudah mengantongi pendapatan sekitar Rp35 juta.
"Satu kantong Rp35.000 dengan berat 7 kilogram (kg)," jelasnya.
Tomat yang baru dipetik langsung dibeli oleh para tengkulak untuk kemudian disebarkan ke sejumlah pasar di Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo.
Baca juga: Nano Grow, Inovasi Mahasiswa UNG untuk Petani Gorontalo
dasarkan pengalaman sebelumnya, proses panen bisa berlangsung hingga 16 kali.
Oleh karena itu, Mudzakir optimistis hasil panennya akan terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan.
Untuk membantu proses ini, ia kerap menyewa tenaga tambahan, terutama saat panen.
Meski tergolong sukses, Mudzakir mengakui ada beberapa tantangan. Salah satunya adalah ukuran buah yang tidak seragam seperti musim tanam sebelumnya.
"Dulu, saat awal panen belum ada penyortiran karena semua ukurannya besar. Kalau sekarang, baru awal panen sudah harus disortir," ungkapnya.
Penyortiran dilakukan untuk memisahkan tomat berukuran besar dan kecil, meskipun keduanya tetap bisa dipasarkan. Selain itu, perubahan cuaca yang tidak menentu juga menjadi tantangan.
"Tiba-tiba panas sekali, begitu juga kalau hujan," katanya.
Meskipun demikian, Mudzakir bersyukur hasil panennya tetap bisa menutupi biaya produksi dan memberikan keuntungan.
(tribungorontalo.com/ht)
(tribungorontalo.com/ht)