Berita Internasional
Kenapa Armada Amerika Terbesar Dunia Tak Berani Masuk Selat Hormuz? Ternyata Ini Alasannya
Armada laut terbesar dan termahal di dunia justru berada jauh di luar jalur strategis tersebut, seolah hanya menyaksikan tanpa mampu berbuat banyak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KAPAL-PERANG-Kapal-induk-Angkatan-Laut-AS-USS-Abraham-Lincoln-CVN-72.jpg)
Ringkasan Berita:
- Publik Amerika mulai mempertanyakan kekuatan Angkatan Laut mereka yang terlihat tak berdaya di Selat Hormuz.
- Perkembangan teknologi rudal dan sistem tanpa awak dari negara seperti Iran dan China mengubah keseimbangan kekuatan laut dunia.
- Era dominasi mutlak kapal induk Amerika kini memasuki titik senja, memunculkan keraguan atas masa depan strategi militer AS.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Warga Amerika Serikat mungkin patut bertanya-tanya melihat situasi terkini di Selat Hormuz.
Armada laut terbesar dan termahal di dunia justru berada jauh di luar jalur strategis tersebut, seolah hanya menyaksikan tanpa mampu berbuat banyak ketika Iran menentukan kapal mana yang diizinkan melintas.
Pertanyaan pun bermunculan: mengapa Angkatan Laut AS tidak langsung menghancurkan hambatan tersebut dan membuka kembali jalur vital bagi ekonomi global?
Namun kenyataannya, masa ketika kekuatan laut Amerika bisa bertindak bebas di dekat wilayah dengan pertahanan kuat kini mulai berakhir.
Perubahan ini memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan angkatan laut dan apakah investasi besar pada alat militer mahal tersebut masih relevan.
Jika menilik sejarah, perubahan ini bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil evolusi panjang dalam strategi perang laut.
Masa Lalu sebagai Pembuka Jalan
Pada awal abad ke-20, negara-negara seperti Jerman dan Amerika Serikat memandang angkatan laut sebagai kunci untuk meraih status kekuatan besar dunia.
Dengan meniru kejayaan Angkatan Laut Inggris, Amerika kemudian membangun armada terbesar dalam sejarah, didukung oleh kapasitas industri yang luar biasa.
Dalam Perang Dunia II, kekuatan ini terbukti menentukan. Angkatan Laut AS berhasil memenangkan perang di Pasifik melawan Jepang, sekaligus mengatasi ancaman kapal selam Jerman di Atlantik.
Keberhasilan ini memungkinkan pengiriman pasukan ke Eropa dan mencegah wilayah tersebut jatuh ke tangan Uni Soviet, sekaligus memperkuat dominasi global Amerika.
Saat itu, kapal perang memiliki keunggulan besar: mampu mengirim pasukan ke hampir semua garis pantai di dunia. Kapal induk Amerika bahkan mampu melancarkan serangan udara hingga ratusan kilometer ke daratan musuh.
Strategi ini mencapai puncaknya dalam Perang Vietnam. Kapal induk AS beroperasi sekitar 90 mil dari pantai Vietnam di wilayah yang dikenal sebagai “Yankee Station”, melancarkan serangan udara intensif ke Vietnam Utara meski dengan biaya besar.
Lahirnya Era Penangkalan Modern
Memasuki 1990-an, setelah berakhirnya Perang Dingin, Amerika Serikat berada di puncak supremasi laut global.
Kapal induk bebas beroperasi di Teluk Persia untuk mendukung operasi militer, termasuk pengawasan zona larangan terbang di Irak.
Namun situasi mulai berubah ketika intelijen Amerika mendeteksi pembangunan militer Iran di pulau Abu Musa dan Tunbs, serta di pesisir Bandar Abbas, yang berada dekat Selat Hormuz.
Iran memasang rudal anti-kapal dalam bunker yang diperkuat beton dan baja, memungkinkan mereka menargetkan kapal yang melintas dengan mudah.
Sejak saat itu, Angkatan Laut AS mulai mengurangi aktivitasnya di selat tersebut. Kini, kapal induk Amerika beroperasi jauh di luar jangkauan rudal Iran.
Era “anti-access/area denial” pun dimulai, di mana sistem pertahanan berbasis darat, khususnya rudal, menjadi lebih dominan dibanding kekuatan laut.
Wilayah seperti “Yankee Station” tidak lagi mungkin diterapkan di area yang dipenuhi rudal murah namun akurat.
China Ikuti Jejak, Ancaman Kian Nyata
Langkah Iran tidak luput dari perhatian China. Negara tersebut kemudian mengembangkan sistem “anti-Navy” dengan rudal yang dirancang untuk menghancurkan kapal perang AS, terutama jika terjadi konflik di sekitar Taiwan.
China kini memiliki berbagai sistem rudal canggih, termasuk seri DF (Dong Feng), yang mampu melacak dan menyerang kapal dari jarak ribuan kilometer.
Berbagai simulasi perang menunjukkan bahwa Angkatan Laut AS berpotensi mengalami kerugian besar jika menghadapi China.
Risiko Tinggi, Biaya Membengkak
Saat ini, Angkatan Laut AS menyadari bahwa memasuki Selat Hormuz bukan tanpa risiko besar.
Kapal-kapal mereka rentan terhadap rudal, ranjau laut, serta sistem tanpa awak di permukaan maupun bawah laut.
Langkah untuk menghindari wilayah berbahaya ini justru meningkatkan biaya operasi, termasuk kebutuhan pengisian bahan bakar udara secara terus-menerus.
Meski berbagai sistem pertahanan telah diterapkan, jarak dekat dengan ancaman membuat waktu reaksi menjadi sangat terbatas.
Pelajaran dari perang Rusia-Ukraina juga memperkuat kekhawatiran ini.
Ukraina berhasil memukul mundur armada Rusia di Laut Hitam menggunakan rudal dan drone, teknologi yang juga dimiliki Iran.
Tidak Ada Solusi Militer Instan
Inilah alasan mengapa Angkatan Laut AS tidak mencoba memaksa masuk ke Selat Hormuz.
Iran mampu mengancam kapal-kapal mahal Amerika dengan senjata yang jauh lebih murah.
Bahkan, kemampuan industri kapal Amerika yang menurun membuat penggantian kapal yang rusak atau hancur menjadi sulit.
Usulan penggunaan pasukan darat pun dinilai tidak efektif untuk mengubah situasi secara strategis.
Secara geografis dan militer, Iran memiliki keunggulan untuk terus mengancam jalur tersebut dengan biaya rendah.
Artinya, tidak ada solusi militer cepat untuk mengatasi masalah ini.
Era Baru Perang Laut
Kondisi ini menandai perubahan besar dalam paradigma kekuatan laut.
Masa di mana kapal induk dan pesawat tempur dapat menyerang musuh tanpa hambatan kini telah berakhir.
Penyebaran sistem anti-kapal yang murah, efektif, dan tanpa awak di berbagai negara menunjukkan bahwa dunia telah memasuki era baru peperangan laut, sebuah realitas yang harus dihadapi, suka atau tidak, oleh perencana militer Amerika.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.