Berita Internasional
Perang Iran Picu Krisis Pangan Global, Pupuk Langka dan Harga Terancam Naik
Dampak perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini menjalar jauh melampaui medan tempur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/pupuk-Phonska-memang-mengandung-mineral-batuan-tapi-alami.jpg)
Ringkasan Berita:
- Dampak perang Iran kini merembet hingga sektor pangan global yang vital.
- Kelangkaan pupuk muncul di saat paling krusial, yaitu musim tanam.
- Jika berlanjut, dunia bisa menghadapi lonjakan harga pangan dalam waktu dekat.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Dampak perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini menjalar jauh melampaui medan tempur.
Petani di berbagai belahan dunia mulai merasakan tekanan serius setelah Iran membatasi jalur strategis Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi dan pupuk global.
Pembatasan tersebut membuat harga gas melonjak dan pasokan pupuk menipis.
Kondisi ini datang di waktu yang paling krusial, tepat saat musim tanam dimulai di banyak negara.
Baca juga: BMKG Prediksi Hujan Sepekan di Seluruh Indonesia, 27 Maret–2 April 2026
Akibatnya, para petani, terutama di negara berkembang, harus menghadapi risiko gagal panen hingga lonjakan biaya produksi.
World Food Programme memperingatkan situasi ini bisa berdampak luas.
Dalam skenario terburuk, hasil panen musim berikutnya akan menurun drastis.
Bahkan dalam kondisi terbaik sekalipun, kenaikan biaya pupuk tetap akan berujung pada harga pangan yang lebih mahal bagi masyarakat.
Gangguan terbesar terjadi pada pasokan pupuk berbasis nitrogen seperti urea, yang sangat bergantung pada gas alam dan distribusi global.
Sekitar sepertiga perdagangan urea dunia kini terdampak konflik.
Sementara itu, pasokan fosfat, yang penting untuk pertumbuhan akar tanaman, juga ikut tertekan karena kawasan Teluk merupakan produsen utama dunia.
Di banyak negara berkembang, situasinya sudah berada di titik kritis.
Negara seperti Ethiopia sangat bergantung pada impor pupuk dari kawasan Teluk, sementara distribusinya kini terganggu.
Para petani menghadapi kenyataan pahit: musim tanam sudah dimulai, tetapi pupuk belum tersedia.
Dampaknya tidak berhenti di ladang. Di Amerika Serikat dan Eropa, musim tanam utama sedang berlangsung, dan keterlambatan pupuk bisa langsung memengaruhi hasil panen.
Para ahli mengingatkan bahwa tanpa nutrisi yang cukup di fase awal pertumbuhan, tanaman tidak akan berkembang optimal, yang pada akhirnya menurunkan produksi.
Kondisi ini menempatkan petani dalam dilema sulit. Mengurangi penggunaan pupuk berarti risiko hasil panen turun, sementara tetap membeli pupuk dengan harga tinggi akan menggerus keuntungan.
Pada akhirnya, tekanan ini hampir pasti akan diteruskan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga pangan.
Upaya untuk menutup kekurangan pasokan pun tidak mudah. Negara produsen besar seperti China memilih mengamankan kebutuhan domestik, sementara Rusia sudah beroperasi hampir pada kapasitas penuh.
Artinya, gangguan pasokan global tidak bisa segera diatasi.
Perusahaan pupuk global seperti Yara International menegaskan bahwa sistem pangan dunia sangat bergantung pada stabilitas rantai pasok pupuk.
Tanpa itu, ketahanan pangan global menjadi rapuh.
Jika konflik terus berlanjut, krisis ini berpotensi menjadi titik balik, bukan hanya bagi geopolitik, tetapi juga bagi masa depan pangan dunia.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.