Update Geopolitik
Iran Blok Jalur Perdagangan Minyak Dunia, Kapala-kapal Terpaksa Memutar hingga Harga Melonjak
Pasar keuangan global diguncang lonjakan tajam harga minyak dunia menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/MINYAK-DUNIA-Terpantau-titik-titik-kepal-tengker-pengangkut-minyak-yang-dipasok-ke-seluruh-dunia.jpg)
Ringkasan Berita:
- Lonjakan harga minyak hingga 13 persen dipicu gangguan pelayaran setelah respons militer Iran di Timur Tengah.
- Bursa Eropa langsung melemah, sementara harga gas melonjak 22 persen dan memicu kekhawatiran inflasi kembali naik.
- Jika harga energi bertahan tinggi, rencana penurunan suku bunga Bank of England bisa terancam batal.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Pasar keuangan global diguncang lonjakan tajam harga minyak dunia menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah.
Gangguan jalur pelayaran strategis setelah respons Iran terhadap serangan udara Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Pada perdagangan awal di Asia, harga minyak mentah acuan internasional Brent Crude melonjak hingga 13 persen ke level 82 dolar AS per barel, tertinggi sejak Juli 2024.
Meski kemudian terkoreksi, harga tetap bertahan di kisaran 77,56 dolar AS atau sekitar 5 dolar lebih tinggi dibanding penutupan akhir pekan lalu.
Kenaikan ini dipicu gangguan di kawasan Teluk, termasuk ancaman terhadap Strait of Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia setiap hari.
Sejumlah kapal tanker dilaporkan terdampak serangan, sementara banyak kapal memilih menunda pelayaran atau memutar arah.
Baca juga: Pemkab Bone Bolango Gorontalo Gelar Safari Ramadan, Bupati Fokus Perkuat Silaturahmi
Pengalihan rute kapal yang biasanya melintasi Terusan Suez kini harus memutar lewat Afrika. Konsekuensinya, waktu pengiriman bisa molor hingga dua minggu dan biaya logistik berpotensi melonjak.
Gas Ikut Naik, Krisis Biaya Hidup Mengintai
Tak hanya minyak, harga gas di Eropa juga meroket 22 persen menjadi 96,2 pence per therm. Meski level ini masih dalam kisaran tertinggi beberapa pekan terakhir, lonjakan tajam tersebut memicu kekhawatiran akan gelombang baru kenaikan biaya hidup.
Harga energi tinggi berdampak luas, mulai dari biaya pemanas rumah tangga hingga ongkos produksi industri.
Situasi ini mengingatkan kembali pada krisis energi pascainvasi Rusia ke Ukraina yang hingga kini dampaknya belum sepenuhnya pulih.
Bursa Eropa Kompak Turun
Tekanan energi langsung menjalar ke pasar saham. Indeks utama Inggris, FTSE 100, turun 0,57 persen saat pembukaan perdagangan, setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi pada Jumat.
Mayoritas indeks saham utama di Eropa bergerak di zona merah, bahkan beberapa terkoreksi lebih dari 2 persen.
Saham maskapai dan perhotelan diperkirakan paling tertekan akibat penutupan wilayah udara di Timur Tengah dan potensi pembatalan perjalanan.
Sebaliknya, saham energi dan tambang logam mulia berpeluang menguat seiring investor mencari aset aman. Harga emas bahkan sempat naik hampir 2 persen sebelum kembali stabil.
Ancaman ke Inflasi dan Suku Bunga
Lonjakan harga energi datang di saat banyak pihak memperkirakan inflasi Inggris akan turun tajam pada April. Namun, jika harga minyak dan gas bertahan tinggi, proyeksi tersebut bisa berubah.
Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan peluang 75 persen bahwa Bank of England akan memangkas suku bunga menjadi 3,5 persen dalam pertemuan berikutnya, dengan kemungkinan turun lagi ke 3,25 persen pada September.
Kini, ekspektasi itu mulai goyah. Jika inflasi kembali menguat, pemangkasan suku bunga bisa tertunda, yang berarti bunga kredit dan cicilan rumah berpotensi tetap tinggi lebih lama.
Riset International Monetary Fund menunjukkan kenaikan 10 persen harga minyak global rata-rata dapat menambah 0,4 poin persentase terhadap inflasi domestik.
Artinya, gejolak energi saat ini bukan sekadar fluktuasi harga biasa, tetapi berpotensi berdampak luas ke ekonomi rumah tangga.
Meski beberapa negara produsen minyak berkomitmen meningkatkan produksi untuk menstabilkan pasar, investor tetap waspada.
Jika gangguan pasokan berlanjut, dunia bisa kembali menghadapi tekanan inflasi berbasis energi, tepat saat banyak negara berharap memasuki fase pemulihan ekonomi.
(*)
| Usai Serang Iran, Hubungan Amerika dan Negara Eropa Malah Retak? Trump Kecewa ke Inggris! |
|
|---|
| Siapa Ali Larijani? Politikus Senior yang Disebut Berpeluang Kendalikan Iran |
|
|---|
| Apa yang Akan Terjadi Jika Amerika Serikat Benar-benar Menyerang Iran? |
|
|---|
| Iran dan AS Akui Sedang Berunding, Armada Perang AS Siaga di Perairan Teheran |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.