Berita Internasional
Aksi Serentak di Australia Ricuh, Isu Palestina hingga Hak Adat Jadi Sorotan
Gelombang aksi unjuk rasa mengguncang Australia pada Sabtu (13/9). Ribuan orang dari berbagai kelompok turun ke jalan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/DEMO-Aksi-besar-besaran-di-Australia.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Gelombang aksi unjuk rasa mengguncang Australia pada Sabtu (13/9). Ribuan orang dari berbagai kelompok turun ke jalan di sejumlah kota besar, mulai dari Melbourne, Sydney, Brisbane, Adelaide, hingga Darwin.
Massa yang terlibat membawa isu beragam: dukungan terhadap Palestina, pembelaan hak-hak masyarakat adat (Indigenous), hingga kelompok anti-pemerintah. Namun, alih-alih berjalan damai, aksi justru diwarnai bentrokan dan ketegangan dengan aparat kepolisian.
Di Melbourne, suasana memanas saat demonstran pro-Palestina dan aktivis adat berhadapan langsung dengan kelompok anti-pemerintah. Media The Age melaporkan, kubu pro-Palestina menyebut lawan mereka sebagai “Nazi”, memicu adu mulut keras di tengah kawalan polisi.
Sementara di Sydney, kepolisian menurunkan ratusan personel untuk menjaga titik-titik strategis. Polisi juga menangkap seorang pria yang dianggap mengganggu ketertiban umum. Meski sempat tegang, aparat menyebut situasi kota masih bisa dikendalikan.
Gelombang protes ini berlangsung tak lama setelah meningkatnya aktivitas kelompok sayap kanan di Australia pada akhir Agustus lalu. Anggota National Socialist Network—sebuah kelompok ekstremis—tampak hadir di beberapa aksi, bahkan meneriakkan slogan rasis “Hail White Australia”.
Kondisi semakin kontroversial ketika kelompok ekstremis dilaporkan menyerang lokasi aksi masyarakat adat di Melbourne. Langkah ini dikecam keras karena dinilai paradoks: kelompok anti-imigrasi justru menyasar First Peoples, penduduk asli Australia yang sudah ada jauh sebelum kolonialis datang.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan betapa polarisasi publik di Australia semakin tajam. Isu global seperti konflik Palestina, perjuangan hak masyarakat adat, hingga kebangkitan kelompok sayap kanan bercampur di jalanan, menciptakan potret keresahan sosial yang kompleks.
| Hari Keenam Perang Iran-Amerika: Kapal Perang Tenggelam, Rudal Hantam Banyak Negara |
|
|---|
| Trump Ingin Terlibat Tentukan Pemimpin Baru Iran, Tolak Putra Ali Khamenei |
|
|---|
| Mayoritas Senat Dukung Trump, Hasilnya Amerika Bisa Lanjutkan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Ledakan Guncang Ibukota Iran di Hari Kelima Perang dengan Amerika, Serangan Terjadi saat Fajar |
|
|---|
| Terungkap! CCTV Iran Diretas untuk Lacak Rute Harian Ali Khamenei Sebelum 30 Rudal Ditembakkan |
|
|---|