Demo Mahasiswa Gorontalo
Kericuhan Demonstrasi Mahasiswa di Gorontalo Disorot Media Asing
Kericuhan saat demonstrasi mahasiswa di simpang lima Telaga, Kabupaten Gorontalo pada Senin (1/9/2025), menjadi sorotan media asing.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-tangkapan-layar-kericuhan-demo-di-Gorontalo-yang-disoroti-media-asing.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Kericuhan saat demonstrasi mahasiswa di simpang lima Telaga, Kabupaten Gorontalo pada Senin (1/9/2025), menjadi sorotan media asing.
Al Jazeera English, salah satu jaringan media internasional yang berbasis di Doha, Qatar, menyoroti insiden tersebut melalui akun Instagram resmi mereka.
Media dengan jutaan pengikut itu mengunggah video berdurasi hampir satu menit yang merekam detik-detik bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian.
Hingga Rabu (3/9/2025), video tersebut telah ditonton lebih dari 187 ribu kali, menunjukkan bahwa dinamika aksi di daerah pun bisa menjadi perhatian global.
Al Jazeera juga menyoroti pernyataan Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Gorontalo, Arya Syahrain, kala mendatangi Markas Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo, Selasa (2/9/2025) siang.
Arya bersama anggotanya menuntut pembebasan Ketua DPD IMM Gorontalo, Mohamad Arif Hidayatullah Bina.
Massa aksi yang berasal dari berbagai cabang IMM se-Provinsi Gorontalo, mulai dari Pohuwato hingga Kota Gorontalo, berkumpul di depan Mapolda sekitar pukul 14.30 Wita.
Mereka membawa bendera organisasi, berorasi dengan pengeras suara dari mobil pikap putih, dan berjejer di pintu masuk Mako Polda.
Ketua IMM Kota Gorontalo, Arya Syahrain, menegaskan pihaknya menolak penahanan ketua DPD IMM.
“Kami meminta Kapolda untuk membebaskan ketua kami yang ditahan pihak kepolisian. Jika tidak dipenuhi, kami akan membawa massa lebih banyak lagi,” ujarnya lantang.
Insiden kerusuhan massa
Bentrokan pecah saat aparat berusaha membubarkan massa menggunakan dua unit kendaraan taktis dan water canon.
Semburan air itu sempat membuat barisan mahasiswa tercerai-berai. Namun justru memicu kemarahan sebagian demonstran.
Mereka membalas dengan melemparkan batu, yang membuat situasi semakin memanas.
Aksi saling kejar pun tak terhindarkan. Mahasiswa berlarian mencari perlindungan, dan polisi melakukan penyisiran hingga ke area Kampus III Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Pihak kepolisian mengamankan sedikitnya 11 orang yang diduga terlibat dalam kericuhan.
Padahal, demonstrasi yang diikuti oleh 39 organisasi mahasiswa ini awalnya berjalan damai. Massa aksi menutup akses jalan di kawasan tersebut sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah dan DPR RI.
Unjuk rasa yang dimulai dengan tertib itu akhirnya berakhir ricuh setelah aparat mengambil langkah tegas menjelang malam.
Sorotan Al Jazeera English ini menjadi catatan baru bahwa perlawanan mahasiswa di daerah tidak hanya menjadi isu nasional, tetapi juga menarik perhatian media internasional.
Baca juga: BREAKING NEWS: Puluhan Mahasiswa Geruduk Polda Gorontalo, Tuntut Ketua IMM Dibebaskan
Profil Al Jazeera
Al Jazeera didirikan tahun 1996 di Doha, Qatar. Al Jazeera awalnya diluncurkan sebagai stasiun TV berita berbahasa Arab pertama di dunia yang independen dari kontrol pemerintah.
Nama "Al Jazeera" sendiri dalam bahasa Arab berarti "Pulau" atau "Semenanjung", merujuk pada Semenanjung Arab.
Al Jazeera dikenal karena pendekatannya yang berani dan sering kali kritis terhadap isu-isu di Timur Tengah. Mereka memelopori jurnalisme investigasi dan menghadirkan berbagai sudut pandang, termasuk yang sering kali diabaikan oleh media lain.
Slogan mereka, "The Opinion and the Other Opinion," (Pendapat dan Pendapat Lain) mencerminkan komitmen ini
Setelah sukses dengan saluran berbahasa Arab, Al Jazeera memperluas jangkauannya dengan meluncurkan Al Jazeera English pada tahun 2006.
Saluran ini menargetkan audiens global dan bersaing dengan media berita besar lainnya seperti BBC dan CNN. Jaringan ini juga memiliki saluran lain, seperti Al Jazeera Documentary dan Al Jazeera Mubasher (siaran langsung).
Meskipun Al Jazeera mendapatkan banyak penghargaan atas liputan investigasinya, mereka juga tidak luput dari kritik.
Jaringan ini sering dituduh memiliki bias, terutama terkait dengan kebijakan luar negeri Qatar dan hubungannya dengan kelompok-kelompok tertentu.
Namun, Al Jazeera selalu membela diri dengan menegaskan bahwa mereka tetap berpegang pada standar jurnalisme yang profesional dan objektif.
Secara singkat, Al Jazeera adalah salah satu jaringan media paling berpengaruh di dunia yang telah mengubah lanskap jurnalisme, terutama di Timur Tengah, dengan menawarkan narasi alternatif dan sudut pandang yang berbeda.
(tribungorontalo.com/ht)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.