Gorontalo Hari Ini
Demi Bendungan Terbesar di Gorontalo, 3 Desa Ini Mulai Ditinggalkan Warga
Tiga desa di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, bersiap lenyap dari peta wilayah
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-bendungan-Bulango-Ulu-yang-terus-dibangun.jpg)
Ringkasan Berita:
- Desa Owata, Mongiilo, dan Tuloa di Kabupaten Bone Bolango mulai ditinggalkan penghuninya karena kawasan tersebut akan menjadi area genangan Bendungan Bulango Ulu
- Proses relokasi menyebabkan warga tersebar ke berbagai wilayah, dengan banyak di antaranya memilih tetap bertahan di area dataran tinggi sekitar lokasi proyek demi mempertahankan mata pencaharian sebagai petani
- Pembangunan bendungan terbesar di Gorontalo ini telah memasuki tahap akhir (finishing)
TRIBUNGORONTALO.COM – Tiga desa di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, mulai ditinggalkan masyarakatnya demi pembangunan Bendungan Bulango Ulu.
Kawasan pemukiman tersebut masuk dalam peta genangan proyek strategis nasional (PSN) yang ditargetkan rampung pada pertengahan tahun 2026 ini.
Pantauan Tribun Gorontalo di lapangan pada Selasa (26/6/2026), proses relokasi warga tengah berlangsung masif.
Rumah-rumah yang selama puluhan tahun berdiri mulai dibongkar dan diratakan dengan tanah.
Sebagian bangunan lainnya tampak kosong tanpa penghuni dan mulai ditumbuhi rumput liar, mengubah wajah kawasan yang dulunya ramai menjadi sunyi.
Tiga Desa yang Masuk Kawasan Genangan
Baca juga: Rachmat Gobel Perindah Limboto Jelang PENAS di Gorontalo, Diapresiasi Bupati hingga Gubernur
Pemandangan rumah kosong dan puing-puing bangunan yang mulai ditinggalkan ini kini mudah ditemukan di Desa Owata dan Desa Mongiilo di Kecamatan Bulango Ulu.
Sementara untuk wilayah Kecamatan Bulango Utara, kondisi serupa terlihat di Desa Tuloa, meski baru sebagian kecil warga yang mulai meninggalkan lokasi.
Ketiga desa tersebut berada di jalur utama proyek infrastruktur besar Gorontalo yang dirancang memiliki kapasitas tampung total mencapai 140,95 juta meter kubik.
Penghapusan tiga kampung ini dari peta wilayah terpaksa dilakukan demi memberikan manfaat yang lebih luas, seperti ketahanan pangan dan pengendalian banjir.
Pembangunan bendungan terbesar di Gorontalo ini otomatis mengubah peta sosial masyarakat setempat.
Warga yang sebelumnya hidup bertetangga kini harus tersebar ke berbagai daerah baru dengan pilihan lokasi yang beragam:
Kawasan Perkotaan: Sebagian warga memilih pindah ke sejumlah kompleks perumahan di Kota Gorontalo dan wilayah lain di Kabupaten Bone Bolango.
Sebagian menetap di Desa Bulotalangi, Kecamatan Bulango Timur, agar tetap dekat dengan lingkungan yang mereka kenal.
Warga yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani memilih bertahan dengan membangun rumah baru di area yang lebih tinggi dan aman dari genangan, atau masuk lebih jauh ke pelosok yang tidak terdampak.