Tribun Podcast
Basir Noho Beberkan Arah Besar Pendidikan Kabupaten Bone Bolango di Podcast TribunGorontalo.com
Pendidikan bukan sekadar urusan teknis belajar mengajar, tetapi menjadi fondasi utama pembangunan daerah.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Program ini telah dilaunching di SDN 2 Suwawa Tengah dan menjadikan pekarangan sekolah sebagai media pembelajaran kokurikuler yang kontekstual dan aplikatif.
Melalui program ini, sekolah mengembangkan pekarangan atau kebun sekolah hijau yang ditanami berbagai tanaman pangan, seperti bawang, cabai, tomat, serta tanaman obat keluarga seperti kunyit dan lengkuas.
“Kebun sekolah ini menjadi ruang belajar yang hidup,” kata Basir.
Ia menjelaskan, program tersebut dirancang untuk mendukung pembelajaran mendalam (deep learning), sekaligus menerapkan prinsip pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (joyful).
Tak hanya itu, kebun sekolah hijau juga berfungsi sebagai sarana menumbuhkan kesadaran lingkungan pada siswa sejak dini, agar mereka tumbuh dengan kecintaan dan kepedulian terhadap kelestarian alam.
Program ini juga memiliki dimensi strategis lain, yakni mendukung kedaulatan dan kemandirian pangan, membantu pengendalian inflasi daerah, serta menyediakan bahan pangan sehat yang aman untuk mendukung logistik program MBG.
Dalam proses pembelajaran, guru menerapkan berbagai metode, mulai dari problem based learning, project based learning, hingga pendekatan tematik dalam kegiatan kokurikuler.
Tantangan Akses Pendidikan di Wilayah Sulit
Dalam podcast tersebut, Basir juga mengakui masih adanya tantangan akses pendidikan, khususnya di wilayah terpencil seperti Bulango Ulu dan Pinogu dengan keterbatasan infrastruktur dan transportasi.
Ia mencontohkan wilayah seperti Bulango Ulu dan sekitarnya, yang memiliki beberapa SD dan SMP.
Para guru di wilayah ini harus menempuh perjalanan dari tempat tinggal ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum terbuka karena keterbatasan sarana transportasi dinas.
“Memang sebelumnya kita pernah memfasilitasi kendaraan dinas, tapi karena usia kendaraan dan kondisi yang sudah tidak memungkinkan, guru akhirnya menggunakan transportasi publik,” jelasnya.
Sebagai bentuk perhatian, pemerintah daerah menyiapkan insentif daerah tertentu bagi guru dan tenaga kependidikan yang bertugas di wilayah dengan keterbatasan akses geografis.
Insentif ini menggantikan istilah lama daerah terpencil atau tertinggal, menyesuaikan dengan nomenklatur kebijakan terbaru.
“Penetapannya berdasarkan pertimbangan akses jalan, transportasi, dan kondisi geografis,” kata Basir.
Peran Desa dan Masyarakat
Basir juga menyoroti peran penting pemerintah desa dan masyarakat dalam mendukung akses dan mutu pendidikan.