Sampah di Bone Bolango
Warga Keluhkan Sampah di Saluran Air Tilongkabila Gorontalo, Bau Busuk Menyengat
Warga mengeluhkan tumpukan sampah di pinggir jalan dan saluran air di Desa Tambo'o Kecamatan Tilongkabila
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Tumpukan-sampah-di-Tilongkabila.jpg)
Ringkasan Berita:
- Warga mengeluhkan tumpukan sampah di pinggir jalan dan saluran air di Desa Tambo'o
- Sampah rumah tangga bercampur plastik, sisa makanan, botol bekas, hingga popok tampak berserakan
- Dinas Lingkungan Hidup mengakui penanganan sampah masih menghadapi sejumlah keterbatasan.
TRIBUNGORONTALO.COM - Warga mengeluhkan tumpukan sampah di pinggir jalan dan saluran air di Desa Tambo'o Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Sampah tersebut menimbulkan bau busuk menyengat yang mengganggu pengendara yang melintas di jalur tersebut.
Amatan Tribun Gorontalo, Kamis (29/12/026), sampah rumah tangga bercampur plastik, sisa makanan, botol bekas, hingga popok tampak berserakan di pinggir jalan.
Sebagian sampah bahkan masuk ke saluran air yang berada tepat di sisi badan jalan.
Aroma menyengat sudah tercium dari jarak beberapa meter sebelum titik tumpukan sampah, sehingga membuat pengendara terpaksa menutup hidung atau mempercepat laju kendaraan.
Rizal Hasan (32), pengendara sepeda motor, mengaku merasa tidak nyaman setiap kali melintasi jalur tersebut.
“Setiap lewat sini pasti cium bau sampah. Apalagi pagi, baunya sangat menyengat. Kami pengendara jelas terganggu,” ujar Rizal.
Selain bau, Rizal menilai tumpukan sampah juga berpotensi mencemari air dan lingkungan.
“Ini ada yang di air juga ini bisa mencemari aliran sungai, " jelasnya.
Andi Umar (28), pengendara lain yang hampir setiap hari melintasi kawasan Tilongkabila.
Ia menilai kondisi tersebut merusak kenyamanan dan pemandangan jalan umum.
“Ini jalan umum, tapi kelihatannya seperti tempat buang sampah. Selain bau, pemandangannya juga tidak enak dilihat,” kata Andi.
Menurutnya, saat hujan turun, sebagian sampah terlihat hanyut ke saluran air dan dikhawatirkan menyebabkan penyumbatan.
“Kalau hujan, sampah masuk semua ke selokan. Takutnya nanti air meluap ke jalan,” ujarnya.
Kecamatan Tilongkabila sendiri merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas lalu lintas cukup tinggi di Kabupaten Bone Bolango.
Jalur ini kerap digunakan masyarakat menuju kawasan permukiman, perkantoran, hingga pusat aktivitas ekonomi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Bone Bolango, Lukman Daud, mengakui penanganan sampah masih menghadapi sejumlah keterbatasan.
“Penanganan sampah ini memang harus diselesaikan secara arif dan bijaksana, karena kami menghadapi keterbatasan armada, tenaga kerja, dan pendukung lainnya,” ujar Lukman saat ditemui di ruangnya.
Ia menjelaskan, saat ini DLHPP Bone Bolango hanya memiliki sekitar empat armada aktif, sementara beberapa unit lainnya masih dalam kondisi rusak dan menjalani perbaikan.
Bahkan, pada waktu tertentu hanya tiga armada yang beroperasi.
Lukman menyebut, penanganan sampah di beberapa titik, termasuk Tilongkabila, dilakukan secara bertahap.
Untuk sampah yang telah dikumpulkan dan dikarung, pihaknya siap mengangkut.
“Kalau sampahnya sudah dikumpulkan seperti di sekitar SMP di Tilongkabila, tentu kami angkut. Tapi yang masih berserakan, itu perlu kerja sama masyarakat dan pemerintah desa setempat,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa Tilongkabila masuk dalam wilayah prioritas penanganan sampah bersama wilayah ibu kota kabupaten dan jalur lintasan utama lainnya.
“Penanganan sampah ini tidak bisa hanya dibebankan ke dinas. Kesadaran masyarakat sangat menentukan. Jangan membuang sampah sembarangan,” tegasnya.
DLHPP Bone Bolango, lanjut Lukman, menargetkan setiap armada pengangkut sampah dapat beroperasi minimal dua kali dalam sehari.
Selain itu, pemerintah daerah juga berencana mengaktifkan patroli sampah untuk menjangkau titik-titik layanan publik.
“Penanganan sampah tidak boleh diefisiensi karena menyangkut kesehatan lingkungan,” katanya.
Ia berharap masyarakat dapat mengelola sampah sejak dari sumbernya, seperti mengemas sampah dengan baik dan menempatkannya di lokasi yang telah ditentukan.
“Setiap orang bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya,” ujarnya.
Selain di Desa Tambo'o Kecamatan Tilongkabil terdapat juga sampah di SMP 1 Tilongkabila dan juga di kawasan lapak-lapak di Center Point yang harus diangkut. (*/Jefry)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.