Pasar Rakyat Gorontalo
Korban Pandemi Covid-19, Pasar Rakyat Modern Butu Gorontalo Hanya Bertahan Dua Bulan
Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal 2020 meninggalkan jejak panjang di berbagai sektor, termasuk ekonomi rakyat.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kondisi-Pasar-Rakyat-Modern-Desa-Butu-Kecamatan-Tilongkabila.jpg)
Namun, pandemi memutus rantai itu. “Corona datang, semua berhenti. Tidak ada lagi yang jualan,” ujarnya.
Bagi warga, pasar Butu adalah korban nyata dari krisis kesehatan global yang berubah menjadi krisis ekonomi lokal.
Meski pasar kini sepi, warga sekitar masih menaruh harapan besar agar pasar bisa kembali difungsikan.
Menurut Masri, semangat masyarakat untuk berdagang akan muncul kembali jika pemerintah mengaktifkan pasar.
“Berbagai macam cara sudah dilakukan agar pasar kembali ramai, tapi tetap tidak berhasil,” katanya.
Pemerintah Pernah Meninjau
Masri menyebutkan, Pemerintah Kabupaten Bone Bolango sempat turun langsung melihat kondisi pasar. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut nyata.
Upaya revitalisasi atau program penghidupan kembali pasar belum membuahkan hasil.
Warga berharap pemerintah tidak melupakan investasi besar yang sudah ditanamkan untuk membangun pasar tersebut.
Baca juga: Kisah Agung Febri Ramadhan, Pemuda Gorontalo Jualan Laptop di Pasar Sepi Pengunjung
Satu Pedagang Bertahan
Di tengah sepinya aktivitas, hanya satu pedagang yang masih bertahan. Ia adalah Agung Febri Ramadhan, yang membuka usaha penjualan dan servis laptop.
Febri mengaku baru sekitar satu tahun menempati lapak di pasar itu. Saat mulai berjualan, kondisi pasar memang sudah lama sunyi.
“Kalau saya baru satu tahun di sini,” katanya.
Febri mengungkapkan, ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana ramainya pasar sebelum pandemi.
“Saya datang memang sudah sepi. Soal kondisi sebelum itu, saya kurang tahu,” pungkasnya.
Pasar Rakyat Modern Butu kini menjadi simbol nyata bagaimana pandemi Covid-19 menghentikan denyut ekonomi rakyat.
Bangunan yang sempat menjadi kebanggaan desa berubah menjadi ruang kosong tanpa aktivitas.