Pasar Rakyat Gorontalo
Korban Pandemi Covid-19, Pasar Rakyat Modern Butu Gorontalo Hanya Bertahan Dua Bulan
Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal 2020 meninggalkan jejak panjang di berbagai sektor, termasuk ekonomi rakyat.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- Pasar Rakyat Modern Butu hanya bertahan dua bulan setelah diresmikan pada 2019
- Antusiasme pedagang sempat tinggi di awal peresmian
- Hingga kini hanya satu pedagang yang bertahan
TRIBUNGORONTALO.COM – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal 2020 meninggalkan jejak panjang di berbagai sektor, termasuk ekonomi rakyat.
Salah satu yang merasakan dampak paling nyata adalah Pasar Rakyat Modern Butu di Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Pasar yang diresmikan dengan penuh harapan pada tahun 2019 itu hanya mampu bertahan dua bulan sebelum aktivitas perdagangan terhenti total akibat pandemi.
Kini, enam tahun setelah peresmian, bangunan megah yang sempat digadang-gadang menjadi pusat ekonomi warga Desa Butu terlihat lengang, bahkan nyaris terbengkalai.
Pada masa peresmian, antusiasme pedagang begitu tinggi. Lapak-lapak di bagian dalam hingga area depan pasar terisi penuh oleh warga yang menjajakan kebutuhan pokok.
Masri, salah seorang warga setempat, masih mengingat jelas suasana kala itu. “Saat diresmikan banyak yang isi, sampai di dalam, sedangkan di depan juga penuh,” kenangnya.
Sebagian besar pedagang berasal dari Desa Butu sendiri. Mereka menjual beras, sayuran, dan kebutuhan harian lain yang menjadi penopang ekonomi masyarakat sekitar.
Pandemi Menghentikan Segalanya
Namun, harapan itu sirna ketika pandemi Covid-19 datang. Dua bulan setelah pasar beroperasi, seluruh aktivitas perdagangan mendadak berhenti.
“Setelah dua bulan dibuka, baru Corona datang. Sejak itu sudah tidak ada aktivitas lagi,” kata Masri, Minggu (11/1/2026).
Pandemi membuat masyarakat takut berkerumun. Pedagang kehilangan pembeli, sementara aturan pembatasan sosial semakin memperparah kondisi.
Pantauan TribunGorontalo.com, Minggu (11/1/2026), menunjukkan semak-semak mulai tumbuh liar di sekitar pasar. Kondisi ini menjadi tanda minimnya aktivitas perdagangan.
Meski dari luar bangunan pasar masih tampak kokoh, beberapa plafon terlihat jebol. Pintu utama tertutup rapat sehingga kondisi di dalam tidak bisa dipantau.
Bangunan yang seharusnya menjadi pusat ekonomi desa kini lebih mirip monumen bisu dari sebuah harapan yang kandas.
Masri menuturkan, pada awalnya pasar menjadi tempat berkumpul warga. Pedagang dan pembeli saling berinteraksi, menciptakan denyut ekonomi baru di Desa Butu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kondisi-Pasar-Rakyat-Modern-Desa-Butu-Kecamatan-Tilongkabila.jpg)