Human Interest Story
Kisah Agung Febri Ramadhan, Pemuda Gorontalo Jualan Laptop di Pasar Sepi Pengunjung
Agung Febri Ramadhan menjalani hari-harinya, menunggu pelanggan datang di pasar yang nyaris lumpuh sejak pandemi Covid-19.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Foto-Agung-Febri-Ramadhan.jpg)
Saat ini, Febri menyewa satu lapak dengan biaya Rp100 ribu per bulan. Ia menjadi satu-satunya pedagang yang masih mengisi bangunan pasar tersebut. Menurut warga sekitar, pasar itu hanya sempat beroperasi sekitar dua bulan setelah diresmikan, sebelum akhirnya sepi sejak pandemi.
Meski berada di pasar yang mati suri, Febri tetap melayani pembeli setiap hari. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Kampus 4 UNG menjadi salah satu penopang usaha, karena mahasiswa kerap datang terutama saat pencairan beasiswa KIP. Selain itu, ia juga menjalin kerja sama dengan sejumlah instansi pemerintahan.
“Ada juga pemesanan laptop baru, biasanya dari dinas, kantor, atau sekolah untuk pengadaan maupun pemeliharaan,” jelasnya.
Untuk mendukung aktivitas, Febri tinggal di kos yang lokasinya dekat dengan ruko. Setiap hari ia membuka usaha mulai pukul 10.00 Wita hingga larut malam. Tak jarang, pelanggan yang melakukan servis laptop memilih menunggu hingga selesai.
Meski bertahan di tengah keterbatasan dan persaingan usaha yang semakin ketat, Febri memilih terus berjuang. Baginya, tantangan adalah bagian dari proses membangun usaha.
“Tantangannya adalah persaingan, tinggal bagaimana kita pintar menarik perhatian pelanggan saja,” pungkasnya.
(*)