Human Interest Story
Kisah Agung Febri Ramadhan, Pemuda Gorontalo Jualan Laptop di Pasar Sepi Pengunjung
Agung Febri Ramadhan menjalani hari-harinya, menunggu pelanggan datang di pasar yang nyaris lumpuh sejak pandemi Covid-19.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Foto-Agung-Febri-Ramadhan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Agung Febri Ramadhan tetap membuka ruko laptop di Pasar Rakyat Modern Desa Butu, Bone Bolango
- Febri, transmigran asal Jawa, datang ke Gorontalo tahun 2018 untuk kuliah Statistik di UNG
- Kini ia menjual laptop baru/bekas, sparepart, dan servis ringan
TRIBUNGORONTALO.COM – Di sudut Pasar Rakyat Modern Desa Butu, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, sebuah ruko tampak tetap buka di tengah deretan kios yang lama ditinggalkan.
Dari tujuh lapak yang berjejer, hanya satu yang masih beroperasi.
Di sanalah Agung Febri Ramadhan menjalani hari-harinya, menunggu pelanggan datang di pasar yang nyaris lumpuh sejak pandemi Covid-19.
Pada Minggu (11/1), sejak pagi Febri terlihat tenang beraktivitas seperti biasa. Pasar itu berada cukup jauh dari pusat keramaian dan kawasan permukiman padat penduduk.
Suasananya sepi, hanya ada beberapa rumah warga, namun Febri tetap membuka ruko setiap hari dengan penuh kesabaran.
Febri merupakan transmigran asal Jawa. Saat ini keluarganya tinggal di Kecamatan Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, sementara dirinya memilih Gorontalo sebagai tempat menimba ilmu sekaligus membangun masa depan.
Sejak 2018, ia datang ke Gorontalo untuk kuliah di jurusan Statistik Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Keputusannya merantau bukan hanya untuk mengejar pendidikan, tetapi juga mengasah kemandirian.
“Tujuan ke sini memang hanya untuk kuliah, tapi kuliah sambil kerja,” kata Febri saat ditemui TribunGorontalo.com, Minggu (11/1/2026).
Selama masa kuliah, ia bekerja di salah satu toko elektronik.
Dari pekerjaan itu, ia belajar mengenal dunia usaha sekaligus menabung modal. Setelah lulus pada 2023, Febri mulai berani merintis usaha sendiri.
Kini, ia menjual berbagai jenis laptop baru maupun bekas, melayani servis ringan, serta menyediakan sparepart.
Awalnya ia menyewa toko di kawasan Andalas, Kota Gorontalo.
Baca juga: Partisipasi Warga Dorong Donasi Gorontalo Islamic Center Capai Rp1,4 Miliar
Setelah setahun bertahan, ia pindah ke Kecamatan Suwawa, lalu sempat berjualan di kawasan Jembatan Merah sebelum akhirnya menetap di Pasar Rakyat Modern Desa Butu atas rekomendasi teman.
Saat ini, Febri menyewa satu lapak dengan biaya Rp100 ribu per bulan. Ia menjadi satu-satunya pedagang yang masih mengisi bangunan pasar tersebut. Menurut warga sekitar, pasar itu hanya sempat beroperasi sekitar dua bulan setelah diresmikan, sebelum akhirnya sepi sejak pandemi.
Meski berada di pasar yang mati suri, Febri tetap melayani pembeli setiap hari. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Kampus 4 UNG menjadi salah satu penopang usaha, karena mahasiswa kerap datang terutama saat pencairan beasiswa KIP. Selain itu, ia juga menjalin kerja sama dengan sejumlah instansi pemerintahan.
“Ada juga pemesanan laptop baru, biasanya dari dinas, kantor, atau sekolah untuk pengadaan maupun pemeliharaan,” jelasnya.
Untuk mendukung aktivitas, Febri tinggal di kos yang lokasinya dekat dengan ruko. Setiap hari ia membuka usaha mulai pukul 10.00 Wita hingga larut malam. Tak jarang, pelanggan yang melakukan servis laptop memilih menunggu hingga selesai.
Meski bertahan di tengah keterbatasan dan persaingan usaha yang semakin ketat, Febri memilih terus berjuang. Baginya, tantangan adalah bagian dari proses membangun usaha.
“Tantangannya adalah persaingan, tinggal bagaimana kita pintar menarik perhatian pelanggan saja,” pungkasnya.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.