Tribun HIS
Cerita Idrus Siong Nelayan Bajo Boalemo, Belajar Bikin Suku Cadang Mesin Katinting dari Youtube
Cerita Idrus Siong (41) Nelayan Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.
Penulis: Rahmat Hambali | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nelayan-Bajo-Boalemo-00099dd.jpg)
Ringkasan Berita:
- Cerita Idrus Siong (41) Nelayan Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.
- Idrus adalah seorang nelayan sekaligus pembuat sparepart mesin katinting.
TRIBUNGORONTALO.COM - Cerita Idrus Siong (41) Nelayan Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.
Idrus adalah seorang nelayan sekaligus pembuat sparepart atau suku cadang mesin katinting. Dia mengaku bisa membuat sparepart mesin katinting hampir 2 tahun terakhir ini.
Semua ini dia bisa lakukan hanya belajar bermodalkan Youtube. Dia tidak menyangka spearepat yang dibuat olehnya bisa digunakan.
"Sparepart yang saya buat sudah 2 tahun lalu, sampai dengan sekarang masih awet digunakan," ungkap Idrus saat ditemui wartawan TribunGorontalo.com, Sabtu (13/6/2026).
Katanya, membuat 1 sparepart memakan waktu sekitar 2 hingga 3 hari, ketersediaan stok saat ini baru 3 sparepart yang berjenis 6,5 pk. Dia berenana akan membuat sparepart mesin katinting berjenis 9pk.
Menurutnya, para nelayan sebagian besar menggunakan yang berukuran 9pk untuk mesin katinting, sehingga ia sudah membeli cetakan untuk mesin 9pk tersebut.
"Baru-baru ini banyak nelayan yang memesan sparepart mesin katinting yang berukuran 9pk," ujarnya.
Pembelian spepart untuk 6,5 pk dan 9 pk bisa melakukan permintaan pesanan berbagai varian warna di tempat ini.
Harga 1 sparepart tersebut yang berjenis 6,5 pk dapat dibandrol Rp400.000, sedangkan untuk harga sparepart 9pk Rp500.000.
Menurutnya harga tersebut masih terjangkau, jika dibandingkan dengan modal yang diperlukan untuk membuat tersebut.
"Untuk modal juga lumayan mahal, lem Rp 200ribu per jeriken kecil, lem 50 ribu, sedangkan kain fiber Rp 100 ribu per kilo, dan Cat Rp 80rb," Jelasnya kepada TribunGorontalo.com.
Menurutnya, bahan dan alat yang digunakan seperti ini tidak akan mudah berkarat, karena pada umumnya yang dimiliki nelayan biasanya bisa berkarat hanya 1 hingga 2 bulan saja.
Amatan Wartawan TribunGorontalo.com, Idrus Siong sedang melakukan pengamplasan terhadap spepart berjenis 6,5pk yang sedang dibuatnya.
Ia hanya hidup seorang diri di tempat tinggalnya, menjadi seorang nelayan sekaligus pembuat spepart merupakan pekerjaan utama untuk membiayai kehidupannya. (*/Rahmat)
| Cerita Penyapu Jalan di Boalemo Gorontalo, Gaji Kecil hingga Beli Alat Sendiri |
|
|---|
| Mengenal Nurlia Herman, Mahasiswi Gorontalo Aktif Pengembangan Diri Hingga Terus Berprestasi |
|
|---|
| 30 Tahun Arungi Laut Tomini, Nelayan Leato Selatan Curhat Tak Mampu Kuliahkan Anak Perempuan |
|
|---|
| Cerita Romi Bakir Jadi Tenaga Honorer Gorontalo Selama 20 Tahun, Kini Lulus Jadi PPP3 |
|
|---|
| Lolos jadi Anggota Polri, Pemuda Gorontalo Ini Awalnya Kuli Bangunan dan jadi Ojol |
|
|---|