Kamis, 11 Juni 2026

Gorontalo Hari Ini

Kisah Rifki Kadir: Kuliahkan Adik dari Jualan Cabai di Pasar Gorontalo

Rifki Kadir (31) adalah seorang pedagang bahan pokok di Pasar Minggu, Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta

Tayang:
Penulis: Rahmat Hambali | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Kisah Rifki Kadir: Kuliahkan Adik dari Jualan Cabai di Pasar Gorontalo
TribunGorontalo.com/Rahmat Hambali
KISAH PEDAGANG -- Rifki Kadir (31) salah satu pedagang bahan pokok di Pasar Minggu Desa Hungayonaa Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo. (Sumber : TribunGorontalo/Rahmat Hambali) 

Ringkasan Berita:
  • Saat Ini: Rifki Kadir (31) aktif bekerja sebagai pedagang bahan pokok (cabai, tomat, dan bawang) di Pasar Minggu Tilamuta
  • Sebelum fokus berjualan bahan pokok, Rifki memiliki pengalaman kerja yang sangat beragam sejak tahun 2001, mulai dari membantu orang tuanya berdagang, merantau ke Sulawesi Utara, menjadi buruh pabrik roti, hingga bekerja di depot air minum
  • Buah Kerja Hard Kerja Keras: Lewat kegigihannya melakoni berbagai pekerjaan dan berdagang di pasar, Rifki berhasil membiayai adiknya

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Rifki Kadir (31) adalah seorang pedagang bahan pokok di Pasar Minggu, Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.

Ia mengaku setiap hari berjualan bahan pokok seperti cabai rawit, tomat, bawang merah, hingga bawang putih di pasar tersebut.

Sebelum menekuni usaha bahan pokok, Rifki sempat berjualan barang harian serta perlengkapan sekolah anak-anak.

"Saya dulu menjual buku, dan barang harian lainnya", Ungkapnya kepada TribunGorontalo.com.

Rifki mulai belajar berdagang sejak tahun 2001 dengan membantu ayahnya berjualan di pasar yang terletak di Desa Pentadu Barat, serta pasar di kawasan Masjid Agung tempo dulu.

"Orang tua saya sempat jualan dipasar yang berada di pentadu barat dan mesjid agung, lumayan lama berjualan disana", Ujarnya.

Sekitar tahun 2005, pasar yang berada di Masjid Agung dipindahkan ke Pasar Minggu Tilamuta. Sementara itu, pasar di Desa Pentadu Barat masih tetap beroperasi khusus pada hari Jumat.

"Waktu itu saya sudah sering ke pasar sering bantu orang tua jualan", Tutur Rifki.

Ia mengenang, dulunya buku tulis yang dijual masih berwarna putih susu dan dibanderol dengan harga sekitar Rp15.000 per pak.

Pada tahun 2010, Rifki memutuskan untuk terus berjualan buku. Tak lama setelah itu, ia berinisiatif merantau ke Sulawesi Utara, tepatnya ke Manado dan Bitung. Di perantauan, ia sempat bekerja di bagan, menjadi penjual parfum, hingga berbisnis vapor (rokok elektrik).

Rifki Kadir (31) pedagang
HUMAN INTEREST -- Rifki Kadir (31) pedagang bahan pokok di Pasar Minggu, Desa Hungayonaa, Kabupaten Boalemo. (Sumber: TribunGorontalo.com/Rahmat Hambali)

"Kalau untuk Vapor dulu saya beli Rp500.000, kemudian saya jual Rp700.000, Alhamdulillah untung Rp200.000", Ungkapnya.

Usai mencoba berbagai jenis pekerjaan di Sulawesi Utara, pada tahun 2016 ia memutuskan kembali ke Gorontalo dan bekerja di sebuah pabrik.

"Saya bekerja di Pabrik Roti yang berada di Kecamatan Paguyaman", Tutur Rifki.

Rifki tidak bertahan lama di pabrik tersebut. Pada akhir tahun 2016, ia memutuskan mengundurkan diri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved