Kamis, 2 April 2026

Antusiasme Mahasiswa dan Pegiat Lingkungan dalam Sensus Burung Air Asia di Danau Limboto Gorontalo

Sensus burung air Asia ini dilakukan oleh Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA). Tidak sendiri

Tayang:
Penulis: Risman Taharudin |
zoom-inlihat foto Antusiasme Mahasiswa dan Pegiat Lingkungan dalam Sensus Burung Air Asia di Danau Limboto Gorontalo
TribunGorontalo.com
Potret mahasiswa dan pegiat lingkungan tengah mengidentifikasi burung air Asia di Danau Limboto, Gorontalo, Sabtu (4/2/2023). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Kegiatan sensus burung air Asia atau Asian Waterbird Census (AWC) hari ini, Sabtu (4/2/2023) diikuti dengan antusias oleh mahasiswa dan pegiat lingkungan. 

Sensus burung air Asia ini dilakukan oleh Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA). Tidak sendiri, BIOTA menggandeng Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Negeri Gorontalo dan masyarakat sekitar danau.

Sensus burung ini merupakan bagian dari kegiatan global yang secara serentak dilakukan di seluruh dunia (International Waterbird Census).

“Tujuan sensus burung air asia adalah mengumpulkan informasi dan data tahunan mengenai populasi burung air di lahan basah, kami melakukan di Danau Limboto,” kata Debby Hariyanti Mano, Direktur Perkumpulan BIOTA.

Kegiatan ini juga sebagai sarana untuk menumbuhkan dan mendukung minat masyarakat terhadap burung air dan lahan basah serta upaya pelestariannya. 

Dalam kegiatan ini sebanyak 34 mahasiswa dan pengajar Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Negeri Gorontalo terlibat.

Mereka belajar melakukan pengamatan burung dengan menggunakan alat bantu teropong, spottings scope, dan buku panduan lapangan.

Dalam sensus burung ini para mahasiswa dibagi 2 kelompok dengan dikoordinir oleh 2 orang yang berpengalaman, kedua kelompok ini bertugas melakukan pendataan burung air, mulai ada yang menghitung jumlah, memastikan jenis burung, hingga ada yang bertugas membuat sketsa di kertas.

“Sensus burung ini pertama kali kami ikuti, sangat menyenangkan,” kata Indah Sulistiawati salah seorang mahasiswa Prodi PWK yang bertugas mencatat burung yang diamati.

Pengalaman menarik lainnya diungkapkan oleh M Ridho Ferdianto Thalib, untuk pertama kalinya ia menggunakan spotting scope dalam pengamatan ini. 

Ia mendapati sejumlah burung dengan bulu-bulu yang beragam, ada yang berwarna putih bersih seperti kuntul kecil, ada juga yang kombinas warna seperti blekok sawah dengan bulu berbiaknya.

“Saya kira dua jenis, ternyata blekok sawah punya bulu yang berbeda saat masuk masa berbiak dan tidak. Ini juga terjadi pada burung lain,” kata M Ridho Ferdianto Thalib.

Pengamatan ini dilakukan mulai pagi sekitar pukul 06.00 Wita dengan berkumpul di Sunset Guesthouse, sebuah usaha penginapan ekowisata yang berada di tepi Danau Limboto

Di Sunset Guesthouse ini para peserta mendapat pembekalan singkat apa yang akan dilakukan di lapangan. 

Setelah itu peserta bergerak ke arah persawahan di tepi danau Limboto, sejumlah burung diamati berada di antara tanaman dan semak, di lokasi ini didata kuntul kecul, blekok sawah, dan tikusan alis putih. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved