Harga Pangan Gorontalo

Fenomena Anomali, Harga Beras Naik di Tengah Panen Melimpah di Gorontalo

Kenaikan harga beras di Provinsi Gorontalo memunculkan tanda tanya besar.

Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
HARGA BERAS -- (Foto Stok) Salah satu penggilingan padi di Desa Dulohupa, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo (23/7/2025) 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Kenaikan harga beras di Provinsi Gorontalo memunculkan tanda tanya besar.

Pasalnya, dari sisi produksi, baik lokal maupun nasional, ketersediaan padi justru melimpah.

Kondisi ini membuat lonjakan harga dianggap sebagai fenomena anomali.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Muljady Mario, menegaskan bahwa stok beras di daerah masih dalam kondisi aman.

Pernyataan tersebut didukung dengan data panen raya padi periode Juni–Agustus 2025 yang bahkan meningkat signifikan.

“Bulan Juni-Agustus Gorontalo panen raya puncak panen raya padi kedua. Bahkan tercatat hasil panen menyentuh angka 21 ribu ton dari biasanya hanya berkisar antara 17–19 ribu ton,” jelas Muljady dalam rapat bersama Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo, Selasa (26/8/2025).

Ia menegaskan, penyebab utama naiknya harga bukan karena produksi beras berkurang, melainkan terganggunya jalur distribusi.

Sejak Maret 2025, Bulog mulai membeli gabah sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Kebijakan ini mengubah arus distribusi yang sebelumnya dikuasai pedagang padi dan penggilingan, kini sebagian besar beralih ke Bulog.

“Masalahnya Bulog belum punya instrumen cukup dalam waktu singkat ini, menggantikan jalur distribusi yang selama ini ada,” tegasnya.

Akibat peralihan itu, pasokan beras di pasar mengalami kelangkaan sehingga harga melonjak.

Jika sebelumnya harga beras per koli berada di kisaran Rp600 ribu, kini naik menjadi Rp700 ribu hingga Rp800 ribu.

Kondisi diperparah dengan isu beras oplosan yang sempat beredar di masyarakat.

Untuk mengatasi hal ini, distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) digencarkan dengan melibatkan TNI-Polri di berbagai wilayah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo, Ramdhan Pade, menambahkan bahwa pihaknya juga terus melakukan operasi pasar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved