Kamis, 12 Maret 2026

WhatsApp Diblokir

Jutaan Akun WhatsApp Diblokir Meta, Mayoritas Berasal dari Asia Tenggara, Ini Alasannya

WhatsApp dipakai miliaran orang, tapi jutaan akun diblokir Meta karena terindikasi penipuan, dominan dari Asia Tenggara.

Tayang:
Editor: Prailla Libriana Karauwan
zoom-inlihat foto Jutaan Akun WhatsApp Diblokir Meta, Mayoritas Berasal dari Asia Tenggara, Ini Alasannya
slashgear.com
WHATSAPP - Jutaan akun WhatsApp diblokir Meta karena terindikasi penipuan, dominan dari Asia Tenggara. 

Biasanya, korban diminta membayar di awal untuk mendapatkan hasil yang dijanjikan, yang tentunya tidak akan pernah tercapai. 

Meta mengungkap bahwa modus penipu biasanya dimulai dari aplikasi kencan daring (dating app), yang kemudian berlajut ke media sosial dan perpesanan instan, seperti WhatsApp

Korban yang terjebak rayuan, biasanya diminta untuk melakukan pembayaran, termasuk di platform cryptocurrency. 

Dalam satu rangkaian penipuan, pelaku selalu mengajak satu korban berpindah-pindah platform, sehingga sulit terdeteksi. 

Taktik ini mirip dengan skema penipian Pig Butchering, yang juga pernah terjadi di Indonesia. 

Gandeng OpenAI

Meta terus berupaya memberantas akun terindikasi scam, termasuk menggandeng pihak lain, seperti OpenAI. 

"Sebagai contoh, baru-baru ini WhatsApp, Meta dan rekan-rekan kami di OpenAI menghentikan upaya penipuan yang dapat kami hubungkan ke pusat penipuan kriminal di Kamboja," kata Meta. 

Sebagaimana diungkap laporan OpenAI Juni lalu, penipu memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT untuk menyusun pesan dan instruksi penipuan.  

Modus yang sering digunakan adalah mengajak korban melakukan investasi bodong atau menyukai unggahan di media sosial dengan iming-iming komisi.  

Para scammer menggunakan ChatGPT untuk membuat pesan awal yang berisi tautan ke chat WhatsApp, kemudian dengan cepat mengarahkan target ke aplikasi lain seperti Telegram. 

Di platform tersebut, korban akan diberi tugas-tugas sederhana seperti menyukai video di TikTok. 

Untuk membangun kepercayaan, pelaku kerap menunjukkan jumlah uang yang sudah dihasilkan oleh korban setelah melakukan tugas-tugas tersebut. 

Sebelum pada akhirnya meminta korban melakukan deposit uang ke akun kripto sebagai tahap lanjutan. 

“Biasanya korban diminta membayar di muka untuk dijanjikan penghasilan tertentu, dan ini harus menjadi tanda bahaya,” jelas Meta. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved