Berita Internasional
Ini Penyataan Rusia hingga Bikin Trump Baper dan Kerahkan Kapal Selam Nuklir
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Rusia kembali memanas, kali ini dipicu sindiran pedas dari mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kapal-selam-Rusia-kembali-ke-jalur-tempur-usai-diterjang-rudal-Ukraina.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Ketegangan antara Amerika Serikat dan Rusia kembali memanas, kali ini dipicu sindiran pedas dari mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang sukses membuat Presiden AS Donald Trump meradang.
Tak tanggung-tanggung, Trump langsung memerintahkan penempatan dua kapal selam nuklir ke wilayah strategis.
Langkah ini diambil Trump usai Medvedev yang kini menjabat Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia, melontarkan peringatan keras terkait tekanan Trump terhadap Kremlin soal perang di Ukraina.
Dalam unggahan di platform X, Medvedev menulis, “50 hari atau 10… Dia (Trump) harus ingat dua hal: 1. Rusia bukan Israel atau bahkan Iran. 2. Setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang. Bukan antara Rusia dan Ukraina, tapi dengan negaranya sendiri. Jangan ikuti jalan Sleepy Joe!”
Baca juga: Mengapa Gempa Raksasa Rusia Tak Sebabkan Tsunami Mematikan? Ini Penjelasan Para Ahli
Sindiran ini jelas menyindir kebijakan Presiden AS Joe Biden (Sleepy Joe) yang kerap dituding Trump lemah menghadapi Rusia.
Tak berhenti di situ, Medvedev juga menyinggung Dead Hand, sistem era Perang Dingin Uni Soviet yang dirancang untuk meluncurkan serangan nuklir otomatis jika pimpinan Soviet dilumpuhkan. Sistem ini kabarnya masih aktif hingga sekarang.
Menanggapi itu, Trump langsung membalas dengan pernyataan keras.
“Berdasarkan pernyataan provokatif mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, saya memerintahkan dua kapal selam nuklir untuk ditempatkan di wilayah yang sesuai. Ini untuk berjaga-jaga jika pernyataan bodoh ini lebih dari sekadar kata-kata,” kata Trump di media sosialnya.
Trump juga mengingatkan bahwa kata-kata bisa memicu konsekuensi besar.
“Kata-kata sangat penting, dan seringkali bisa berujung pada konsekuensi tak terduga. Saya harap kali ini bukan salah satunya,” tambahnya.
Ketegangan terbaru ini menambah daftar panjang drama geopolitik antara Washington dan Moskow, di tengah konflik Ukraina yang masih terus membara.
Dunia internasional kini menanti, apakah ini hanya perang kata-kata atau akan berujung pada langkah nyata yang bisa mengguncang stabilitas global.
Hubungan Amerika Serikat dan Rusia punya sejarah panjang yang penuh pasang surut.
Setelah Perang Dunia II, keduanya muncul sebagai dua kekuatan terbesar dunia dengan ideologi yang saling bertolak belakang — AS dengan demokrasi liberalnya, Uni Soviet (sekarang Rusia) dengan komunisme.
Dari sinilah lahir Perang Dingin (1947–1991), masa penuh ketegangan, perlombaan senjata nuklir, perebutan pengaruh di Eropa Timur, Timur Tengah, hingga Asia.
Meski Uni Soviet bubar pada 1991, sisa-sisa persaingan itu tak pernah benar-benar hilang.
Di satu sisi, AS dan Rusia masih saling bekerja sama di beberapa bidang penting, seperti pengendalian senjata nuklir (START Treaty), penanganan terorisme, hingga eksplorasi luar angkasa lewat Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Namun di sisi lain, keduanya kerap bentrok kepentingan, terutama soal perluasan NATO ke Eropa Timur, konflik di Ukraina, Suriah, dan tuduhan campur tangan Rusia dalam politik domestik AS.
Karena sama-sama negara nuklir dengan pengaruh global besar, Washington dan Moskow mau tak mau tetap menjaga saluran komunikasi.
Tapi di level retorika, saling sindir hingga ancaman terbuka kerap muncul, untuk menunjukkan posisi kuat ke publik masing-masing.
Konteks inilah yang membuat setiap pernyataan keras, seperti sindiran Medvedev dan respons Trump dengan pengerahan kapal selam nuklir, memicu kekhawatiran akan lahirnya kembali ketegangan ala Perang Dingin — atau yang sering disebut banyak pengamat sebagai “Perang Dingin Jilid Dua”.
(*)
| Konflik Iran Picu Lonjakan Harga BBM di Amerika Gara-gara Jalur Minyak Dunia Terganggu |
|
|---|
| Serangan Drone Iran Tewaskan Tentara Amerika, Washington Curiga Ada Bantuan Intelijen Rusia |
|
|---|
| Hari Keenam Perang Iran-Amerika: Kapal Perang Tenggelam, Rudal Hantam Banyak Negara |
|
|---|
| Trump Ingin Terlibat Tentukan Pemimpin Baru Iran, Tolak Putra Ali Khamenei |
|
|---|
| Mayoritas Senat Dukung Trump, Hasilnya Amerika Bisa Lanjutkan Serangan ke Iran |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.