Selasa, 10 Maret 2026

Sejarah Gorontalo

Kisah Pemulangan Manusia Purba Oluhuta Gorontalo ke Museum Purbakala

Setelah sekian lama sejumlah artefak sejarah Gorontalo tersimpan di Manado, upaya pemulangan secara bertahap kini membuahkan hasil.

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Kisah Pemulangan Manusia Purba Oluhuta Gorontalo ke Museum Purbakala
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
JEJAK ARTEFAK - Display Manusia Oluhuta di Museum Purbakala Gorontalo Kamis (13/7/2025). Tengkorak dan potongan tubuh Manusia Oluhuta telah berhasil dibawa pulang oleh Museum Purbakala Gorontalo dari Manado. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Setelah sekian lama sejumlah artefak sejarah Gorontalo tersimpan di Manado, upaya pemulangan secara bertahap kini membuahkan hasil.

Hal ini merupakan bagian dari langkah panjang yang dilakukan oleh UPTD Museum Purbakala Gorontalo, seiring perubahan kelembagaan dari Balai Arkeologi Manado menjadi bagian dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional).

Proses pengembalian artefak ini tidaklah mudah. Diperlukan pengajuan resmi dari pihak museum, disertai komunikasi intensif dengan pihak terkait di Manado, termasuk Museum Negeri Sulawesi Utara. 

Namun, tekad Museum Gorontalo untuk mengembalikan benda-benda bersejarah milik daerahnya tampaknya tidak main-main.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPTD Museum Purbakala Gorontalo, Melko Salapa, mengungkapkan bahwa tahun 2024 pihaknya telah mengirimkan surat resmi untuk meminta pemulangan artefak asal Gorontalo yang tersimpan di Museum Manado.

"Alhamdulillah, potongan-potongan rangka asli Manusia Oluhuta saat ini sudah berhasil dibawa pulang," ujar Melko kepada TribunGorontalo.com, Kamis (31/7/2025).

Potongan tulang Manusia Oluhuta yang kini telah tiba di Gorontalo mencakup beberapa bagian, meskipun yang masih utuh hanya bagian tengkoraknya.

"Tengkorak dan tulang-tulang itu sudah kita simpan di ruang display," lanjut Melko.

Selain sisa-sisa tulang belulang, artefak lain seperti pemberat pancingan kuno juga turut dipulangkan ke Gorontalo. 

Ini menjadi bukti nyata dari upaya perlahan namun pasti yang dilakukan museum setempat dalam mengembalikan warisan sejarah ke tempat asalnya.

Tidak hanya itu, dua jenis artefak lain juga menjadi fokus perhatian. Di antaranya adalah peninggalan dari Benteng Nasau, sebuah benteng bersejarah yang berdiri di sekitar kawasan asrama polisi di Kota Gorontalo.

Selain peninggalan arkeologi, UPTD Museum Purbakala Gorontalo juga tengah mengupayakan pemulangan benda-benda milik Nani Wartabone, tokoh perjuangan asal Gorontalo yang terkenal. Hal ini disampaikan oleh Merry Arsyad, pemandu dari UPTD Museum Purbakala Gorontalo.

Tengkorak manusia purba di museum purbakala Gorontalo
MANUSIA PURBA -- Tengkorak manusia purba di museum purbakala Gorontalo. (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Baca juga: Kronologi Faad Tukang Bakso Dibacok Pria di Kota Gorontalo, Pelaku Suruh Beli Es

"Barang-barang itu seperti kursi dan setelan jas," bebernya.

Merry menegaskan bahwa pihak museum tidak tinggal diam selama ini. Upaya pemulangan benda-benda tersebut bahkan telah dilakukan sejak bertahun-tahun lalu, termasuk melibatkan pejabat tinggi daerah.

"Saya pernah dengar sudah level gubernur yang berusaha, anggota DPRD yang berusaha. Bahkan saya sendiri pernah bertanya di forum kementerian saat ada bimtek," ungkap Merry.

Namun, terdapat satu kendala besar: secara administrasi, benda-benda itu telah tercatat sebagai koleksi resmi Museum Manado. 

Hal ini terjadi karena pada saat itu Gorontalo masih menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Utara.

"Kecuali dari Manado ada penghapusan koleksi atau dihibahkan," tambahnya.

Saat ini, Museum Negeri Sulawesi Utara di Manado tengah bersiap melakukan revitalisasi. 

Bagi pihak UPTD Museum Purbakala Gorontalo, momen ini dianggap strategis dan sangat penting untuk kembali mengajukan permohonan pemulangan barang-barang bersejarah yang masih tertahan di sana.

Baca juga: Jelang HUT RI ke-80, Pemprov Gorontalo Bebaskan Denda Pajak, Ada Pejabat Menunggak Rp800 Juta

Desa Oluhuta ditetapkan sebagai situs arkeologi pada tahun 1995, setelah dilakukan survei oleh tim dari Balai Arkeologi Manado.

Dalam survei tersebut, ditemukan kapak batu dari periode Neolitik, termasuk jenis beliung persegi (quadrangular adze), yang menjadi salah satu bukti penting keberadaan masyarakat prasejarah di Gorontalo.

Dari penelitian ini, ditemukan sejumlah fragmen gerabah, kapak beliung, sisa peleburan logam, dan cangkang kerang.

Pada kedalaman sekitar 105 cm, tim peneliti menemukan dua belas kerangka manusia dalam keadaan yang relatif utuh dan baik.

Kerangka-kerangka ini ditemukan teratur sejajar dengan orientasi arah hadap barat-timur, yang menunjukkan adanya pola budaya penguburan manusia yang sudah teratur.

Diperkirakan bahwa kerangka-kerangka ini berasal dari lebih dari 2.000 tahun lalu.

Baca juga: Kondisi Bendera Merah Putih Tertua di Gorontalo, Buah Tangan Istri Nani Wartabone

Pola penguburan yang ditemukan, serta bekal kubur yang menyertainya, menunjukkan adanya kepercayaan tertentu terkait kematian yang berkembang pada masa tersebut.

Kapak batu dan fragmen gerabah yang ditemukan juga mengindikasikan bahwa masyarakat di Oluhuta mungkin telah mengenal teknologi sederhana dalam pembuatan alat dan perlengkapan sehari-hari.

Berdasarkan hasil penelitian, situs Oluhuta diperkirakan berusia antara 530 hingga 770 tahun.

Artefak yang ditemukan di situs ini memberikan gambaran yang penting tentang cara hidup, struktur sosial, dan kepercayaan masyarakat prasejarah di Gorontalo.

Oluhuta juga diyakini sebagai lokasi yang memiliki peran penting dalam ritual dan penguburan manusia pada masa itu.

 

 

(TribunGorontalo.com/ Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved