Rabu, 11 Maret 2026

Konflik Thailand Vs Kamboja

Thailand dan Kamboja Akhirnya Sepakat Gencatan Senjata, Malaysia Jadi Penengah

Setelah empat hari bentrok di area perbatasan, Thailand dan Kamboja akhirnya sepakat gencatan senjata.

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Thailand dan Kamboja Akhirnya Sepakat Gencatan Senjata, Malaysia Jadi Penengah
X Screengrab/Asiatimes
KONFLIK PERBATASAN -- Ilustrasi perbatasan Thailand dan Kamboja. Baku tembak yang melibatkan tentara kedua negara terjadi di enam lokasi sepanjang perbatasan. Kini kedua negara Asia Tenggara itu sepakat gencatan senjata. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Setelah empat hari bentrok di area perbatasan, Thailand dan Kamboja akhirnya sepakat gencatan senjata.

Gencatan senjata merujuk pada penghentian sementara perang atau konflik bersenjata.

Konflik Kamboja-Thailand telah merenggut puluhan nyawa dan menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi.

Melansir pemberitaan AFP via Kompas.com, gencatan senjata tanpa syarat ini akan diberlakukan mulai Selasa, 29 Juli 2025, pukul 00.00 waktu setempat.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, secara langsung mengumumkan kabar baik ini usai memediasi pertemuan bilateral antara kedua negara di Putrajaya pada Senin (28/7/2025). 

"Baik Kamboja maupun Thailand telah menyepakati dua hal penting. Pertama, gencatan senjata segera dan tanpa syarat akan berlaku efektif pada pukul 24.00 malam ini," ujar Anwar dalam konferensi pers, seperti dikutip dari AFP.

Ketegangan antara Thailand dan Kamboja memuncak menjadi konflik bersenjata sejak Kamis, 24 Juli 2025, memicu gelombang kekerasan terburuk di perbatasan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir. 

Konflik ini berakar dari sengketa perbatasan yang telah berlangsung puluhan tahun. Eskalasi makin parah setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak di perbatasan pada Mei 2025.

Hingga Minggu (27/7/2025), sedikitnya 35 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya luka-luka akibat baku tembak, serangan artileri, dan serangan udara.

Di pihak Thailand, pemerintah mencatat 22 korban jiwa, termasuk 14 warga sipil. 

Sebanyak 139.000 warga dari tujuh provinsi terdampak telah dievakuasi ke pos darurat.

Sementara itu, Kamboja melaporkan 13 orang meninggal di Provinsi Oddar Meanchey, delapan di antaranya warga sipil. 

Lebih dari 80.000 warga dilaporkan mengungsi sejak serangan pertama terjadi.

Baca juga: Asal Muasal Ikan Nike Gorontalo Terungkap, Ternyata Bukan Endemik dan Punya 13 Spesies

Apa sebenarnya akar permasalahan Thailand-Kamboja?

Sengketa perbatasan yang membentang lebih dari 800 km ini telah menjadi pemicu ketegangan berkala antara kedua negara.

Klaim yang disengketakan sebagian besar berakar pada peta tahun 1907 yang dibuat oleh penguasa kolonial Prancis. Kamboja menggunakan peta tersebut sebagai referensi, sementara Thailand menganggapnya tidak akurat.

Ketegangan sempat mereda setelah Mahkamah Internasional pada tahun 1962 dan 2013 memberikan kedaulatan atas kuil Preah Vihear kepada Kamboja. 

Namun, insiden pada Februari 2025, ketika pasukan Kamboja memasuki kuil kuno Preah Vihear dan menyanyikan lagu kebangsaan mereka, memicu pertengkaran singkat dengan pasukan Thailand.

Puncaknya pada Mei 2025, konflik kembali meletus saat angkatan bersenjata kedua negara saling tembak di "wilayah tak bertuan" yang menyebabkan satu tentara Kamboja tewas. 

Meskipun ada kesepakatan untuk meredakan situasi, pejabat kedua negara terus saling ancam dengan berbagai tindakan, termasuk pembatasan perbatasan oleh Thailand dan boikot ekonomi oleh Kamboja.

Situasi memanas secara dramatis setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak singkat pada akhir Mei 2025. 

Puncaknya, awal pekan ini, Thailand menuduh Kamboja memasang ranjau darat baru di wilayah sengketa, setelah dua tentara Thailand terluka parah akibat ledakan ranjau darat.

Sebagai respons, Bangkok menarik duta besarnya dari Phnom Penh dan mengumumkan pengusiran utusan Kamboja pada Rabu malam. 

Pada Kamis pagi, konflik semakin tak terkendali ketika militer Thailand mengerahkan kekuatan udara. 

Salah satu dari enam jet tempur F-16 melancarkan serangan, menghancurkan target militer Kamboja, menurut Kolonel Richa Suksuwanon, wakil juru bicara tentara Thailand.

Baca juga: Baku Tembak hingga Saling Tuduh, Apa Penyebab Konflik Thailand dan Kamboja?

Pemerintah Kamboja mengecam keras "agresi militer yang sembrono dan brutal" oleh Thailand, menuduh pelanggaran kedaulatan dan perjanjian sebelumnya. 

Phnom Penh juga mengklaim jet tempur Thailand menjatuhkan dua bom di jalan di wilayah Kamboja. 

Pasca-bentrokan, Thailand memerintahkan penutupan semua perlintasan perbatasan dengan Kamboja karena kekhawatiran eskalasi militer yang lebih luas.

Kedua negara juga telah mengeluarkan pernyataan yang saling menuduh sebagai pemicu pertempuran. 

Militer Thailand menyatakan Kamboja mengerahkan pesawat tanpa awak pengintai dan pasukan bersenjata berat, termasuk artileri dan roket jarak jauh BM21, memaksa pasukan Thailand membalas. 

Mereka juga menuduh Kamboja menyerang wilayah sipil di Thailand, termasuk sebuah rumah sakit, yang menyebabkan kematian.

Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja mengutuk agresi militer yang brutal Thailand. Mereka menuduh serangan awal dan pelanggaran perjanjian, serta menyatakan pasukannya bertindak membela diri.

Meskipun ada kekhawatiran akan perang penuh, Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan perselisihan ini rumit dan harus ditangani hati-hati sesuai hukum internasional.

Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menegaskan keinginannya untuk menyelesaikan masalah secara damai, namun tidak punya pilihan selain menanggapi agresi bersenjata. 

 


Artikel ini dioptimasi dari Kompas.com dan KompasTV

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved