Berita Internasional
Rusia Diduga Bersiap Invasi Negara Eropa Baru, NATO Waspada Ancaman Konflik Meluas
Kekhawatiran akan konflik yang lebih luas kembali membayangi Eropa. Seorang pakar intelijen mengungkapkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kim-Jong-Un-mengendarai-mobil-bersama-Vladimir-Putin.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kekhawatiran akan konflik yang lebih luas kembali membayangi Eropa.
Seorang pakar intelijen mengungkapkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin diduga tengah mempersiapkan rencana untuk menginvasi negara Eropa lain, di tengah kecemasan NATO yang semakin meningkat.
Bulan lalu, Institute for the Study of War (ISW) melaporkan bahwa Moskow sedang menyiapkan langkah-langkah untuk bergerak ke Moldova dan negara-negara Baltik.
Alasan yang dikemukakan adalah kewajiban Rusia untuk melindungi ‘rekan senegaranya di luar negeri’.
Narasi ini selaras dengan konsep ‘Russian Mir’ atau ‘Dunia Rusia’ yang mempromosikan ide tentang dunia Rusia yang melampaui batas negaranya.
Para ahli menilai retorika semacam ini mirip dengan dalih yang digunakan Moskow untuk melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022 lalu.
Lebih jauh, pada awal tahun ini juga terungkap bahwa aparat keamanan Rusia terus melakukan operasi rahasia terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Langkah-langkah ini dinilai sebagai latihan untuk kemungkinan konflik lanjutan dengan NATO.
Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika Serikat (CISA) bersama badan intelijen dari sejumlah negara Eropa mengungkapkan bahwa badan intelijen militer Rusia, GRU, telah menargetkan sektor-sektor vital di negara-negara anggota NATO.
Sektor yang disasar meliputi pertahanan, transportasi, hingga layanan teknologi informasi, serta negara-negara seperti Rumania, Moldova, dan Ukraina.
Peringatan ini memicu para ahli untuk angkat suara, menyatakan kekhawatiran bahwa konflik akan merembet lebih jauh ke wilayah Eropa.
Dalam tulisannya untuk The Telegraph, pakar intelijen kelahiran Rusia yang kini berbasis di Amerika Serikat, Rebekah Koffler, menyebut: “Sebagai analis intelijen militer yang fokus pada pemikiran Putin dan strategi militer Rusia, saya sependapat dengan penilaian Rutte soal kesiapan Rusia untuk melancarkan kampanye militer ofensif baru dalam beberapa tahun ke depan.”
Namun demikian, Koffler menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil atau diabaikan oleh NATO dalam beberapa tahun mendatang akan sangat menentukan apakah Putin benar-benar akan menyerang negara pasca-Soviet lain, seperti Moldova.
Ia juga memperingatkan bahwa Rusia bertujuan merusak pendekatan ‘network-centric’ NATO dalam berperang.
Koffler mendesak negara-negara anggota untuk tidak sekadar meningkatkan anggaran pertahanan, tetapi juga memahami kelemahan aliansi ini secara mendalam.
Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya memahami kecenderungan Kremlin yang sering menggunakan taktik tidak langsung dalam menghadapi musuhnya, ketimbang serangan terbuka.
Situasi ini semakin menguatkan sinyal bahwa Eropa harus waspada menghadapi segala kemungkinan, seiring bayangan konflik yang kian meluas dari Timur. (*)
| Serangan Udara Hantam Ibu Kota Iran, Amerika Serikat Disebut Turut Terlibat |
|
|---|
| Presiden Amerika Donald Trump Heran Iran tak Juga Menyerah Padahal Diancam |
|
|---|
| Presiden Meksiko Tetap Percaya Diri Sambut Piala Dunia Meski Kartel Narkoba Mengamuk |
|
|---|
| Putusan Mahkamah Agung Gagalkan Tarif Darurat, Trump Balas dengan Skema 10 Persen |
|
|---|
| Mantan Presiden Korea Selatan Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup atas Upaya Kudeta |
|
|---|