Konflik Thailand Vs Kamboja
15 WNI Tinggal di Perbatasan Kamboja-Thailand, Kemlu RI Pastikan Mereka Bukan Korban Konflik
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) memastikan bahwa tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) menjadi korban konflik Thailand-Kamboja
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/TEMBAKKAN-RUDAL.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) memastikan bahwa tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja.
Konflik yang telah berlangsung selama tiga hari di wilayah perbatasan ini telah menewaskan 33 orang, mayoritas warga sipil.
Juru Bicara Kemlu RI, Roy Sumirat, mengungkapkan bahwa pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok dan Phnom Penh.
"Sejauh ini tidak terdapat informasi mengenai adanya WNI yang terdampak. Pemerintah melalui Perwakilan RI di Kamboja dan Thailand, terus mengikuti secara seksama perkembangan di perbatasan Thailand dan Kamboja," kata Roy pada Minggu (27/7/2025).
Menurut data Kemlu, sekitar 15 WNI tersebar di wilayah perbatasan Thailand yang terdampak konflik, termasuk di Trat, Sa Kaeo, dan Ubon Ratchathani.
Sementara itu, di wilayah perbatasan Kamboja yang mencakup Provinsi Oddar Mianchey dan Preah Vihear, belum ada laporan WNI yang mendaftar diri kepada Kemlu RI.
Roy Sumirat juga memastikan bahwa Kemlu telah menjalin komunikasi denganWNI yang berada di wilayah perbatasan kedua negara.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan keselamatan dan memberikan dukungan kepada WNI yang berada di zona merah konflik.
Konflik antara Thailand dan Kamboja, yang memperebutkan wilayah Segitiga Zamrud yang kaya akan kuil kuno, telah memanas sejak Mei 2025.
Pertempuran kali ini bahkan dilaporkan meluas ke negara tetangga, Laos, dengan jatuhnya peluru artileri di wilayah Laos, merusak properti di Laem Pa Paek dan Laem Makham Pom.
Pemerintah Thailand membantah keras tuduhan bahwa peluru tersebut ditembakkan oleh militernya.
Juru Bicara Angkatan Darat Kerajaan Thailand, Mayor Jenderal Winthai Suvaree, menegaskan bahwa Thailand mengendalikan persenjataannya secara ketat sesuai dengan protokol internasional.
Ia justru menuduh Kamboja sengaja menggunakan senjata jarak jauh terhadap sasaran sipil dan merekayasa insiden di Laos untuk menyesatkan pengamat internasional.
Angkatan Darat Thailand telah mengunggah bukti dari Laos di laman Facebook mereka, yang menyatakan bahwa 10 peluru dari konflik perbatasan Thailand-Kamboja mendarat di Laos.
Meskipun menyatakan penyesalan mendalam atas kerusakan tersebut, militer Thailand menegaskan bahwa peluru itu bukan berasal dari pasukan mereka.
Baca juga: BREAKING NEWS: Seorang Guru SMP di Gorontalo Tewas Ditabrak Mobil saat Bersepeda, Ini Identitasnya