Beras Oplosan
Viral Beras Oplosan, Disperindag Gorontalo Beber Hasil Pengecekan di Sejumlah Ritel
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gorontalo menanggapi serius isu beras oplosan yang tengah ramai diperbincangkan publik.
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gorontalo menanggapi serius isu beras oplosan yang tengah ramai diperbincangkan publik.
Sebanyak 212 merek beras diduga oplosan yang sempat viral di media sosial.
Atas informasi itu, Kepala Disperindag Kabupaten Gorontalo, Viktor Asiku menyebut pihaknya memantau langsung sejumlah ritel.
"Kami sudah turun langsung tiga hari lalu bersama tim. Kami cek langsung ke ritel modern seperti Alfamart, Alfamidi, dan Indomaret. Hasilnya, stok beras premium kosong," ujar Viktor saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Jumat (18/7/2025).
Pemantauan, kata Viktor, dilakukan meskipun Disperindag Kabupaten Gorontalo belum menerima info resmi dari Kementan.
"Kami belum menerima surat resmi dari Kementan. Tapi karena informasi ini sudah ramai, kami lakukan pengecekan terbatas. Kami temukan semua merek premium yang dicurigai sudah tidak dijual lagi," jelasnya.
Viktor mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan apakah beras-beras tersebut telah ditarik atau memang stoknya habis.
Disperindag juga tidak memiliki laboratorium pengujian pangan seperti SIG Laboratory.
"Kita kesulitan menentukan apakah oplosan atau bukan. Tidak ada alat atau SDM untuk itu. Harapan kami, ada surat resmi dari pusat agar bisa ditindaklanjuti lebih masif," ungkapnya.
Baca juga: Jenazah Hardi Sidiki Tiba di Gorontalo Besok 19 Juli 2025, Ini Lokasi Pemakaman Almarhum
Di sisi lain, Viktor mengungkapkan harga beras di Kabupaten Gorontalo saat ini mengalami kenaikan.
Harga per liter saat ini berkisar antara Rp14.500 hingga Rp15.500. Kenaikan terjadi dalam dua hingga tiga pekan terakhir.
Penyebabnya, panen lokal dinilai tidak serentak dan hasilnya kurang bagus.
"Berdasarkan informasi dari pedagang, hasil panen agak hitam dan kualitasnya menurun. Akibatnya, pasokan beras lokal berkurang dan lebih banyak didatangkan dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan," jelas Viktor.
Viktor menyebut beberapa jenis beras berkualitas seperti Manohara, Ciherang, dan Nurdin.
"Beras lokal kita tidak kalah kualitasnya, dan tentu lebih aman karena diproduksi langsung di sini. Kami imbau masyarakat lebih memilih beras lokal," pungkasnya.
Kementerian Pertanian bersama Satgas Pangan menemukan sebanyak 212 merek beras tak sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Modus seperti itu sudah berlangsung sangat lama.
Hingga merugikan masyarakat cukup besar juga.
Kasus tersebut pun kini sudah ditangani oleh pihak kepolisian.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap salah satu modusnya, yakni pencantuman label yang tidak sesuai dengan kualitas beras sebenarnya atau sering disebut oplosan.
Amran mencontohkan, sebanyak 86 persen dari produk yang diperiksa mengklaim sebagai beras premium atau medium, padahal hanya beras biasa.
Ada pula modus pelanggaran yang mencakup ketidaksesuaian berat kemasan, di mana tertulis 5 kilogram (kg) namun hanya berisi 4,5 kg.
"Artinya, beda 1 kg bisa selisih Rp2.000-3.000/kg. Gampangnya, misalnya emas ditulis 24 karat, tetapi sesungguhnya 18 karat. Ini kan merugikan masyarakat Indonesia," kata Amran di Makassar, Sabtu (12/7/2025).
Akibat praktik kecurangan itu menurut Amran, kerugian yang diderita masyarakat tak tanggung-tanggung. Nilainya ditaksir mencapai Rp99,35 triliun setiap tahun.
"Selisih harga dari klaim palsu ini bisa mencapai Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram. Jika dikalikan dengan volume nasional, potensi kerugian masyarakat bisa mencapai hampir
Rp100 triliun," tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kepala-Disperindag-Kabupaten-Gorontalo-Viktor-Asiku-saat-ditemui-TribunGorontalocom.jpg)