Senin, 16 Maret 2026

Berita Internasional

Mengapa Prancis dan Italia Mundur? Penolakan Pembiayaan Senjata AS NATO Picu Pertanyaan Besar

NATO resmi meluncurkan skema pendanaan baru untuk mempercepat pengiriman senjata dari Amerika Serikat ke Ukraina.

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Mengapa Prancis dan Italia Mundur? Penolakan Pembiayaan Senjata AS NATO Picu Pertanyaan Besar
France
PROFIL TOKOH - Emmanuel Macron, lahir pada 21 Desember 1977 di Amiens, Prancis, mencatat sejarah sebagai presiden termuda Prancis sejak Napoleon I. 

TRIBUNGORONTALO.COM — NATO resmi meluncurkan skema pendanaan baru untuk mempercepat pengiriman senjata dari Amerika Serikat ke Ukraina.

Namun langkah ini justru diwarnai penolakan dari dua anggota kunci: Prancis dan Italia.

Dikutip dari Politico dan La Stampa (16/7/2025), penolakan ini memicu sorotan tajam soal soliditas dukungan Eropa bagi Kyiv di tengah invasi Rusia yang belum mereda.

Skema pendanaan senjata ini diperkenalkan pada 14 Juli 2025, saat Presiden AS Donald Trump bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Washington.

Melalui skema ini, NATO akan membeli persenjataan canggih,  termasuk sistem rudal pertahanan udara, langsung dari AS, lalu mengirimkannya ke Ukraina.

Namun Prancis menolak ikut. Pejabat di Paris menyebut Presiden Emmanuel Macron mendorong Eropa untuk memprioritaskan industri pertahanan dalam negeri.

Selain alasan kedaulatan industri, Prancis juga terbebani target belanja militer yang naik di tengah situasi fiskal sulit.

Italia punya alasan serupa. Roma menegaskan fokus mereka pada penguatan teknologi pertahanan sendiri, termasuk sistem SAMP/T buatan Italia-Prancis yang sudah dikirim ke Ukraina.

Italia juga menyoroti tekanan anggaran. Meski menolak membeli senjata AS, Italia tetap membuka opsi mendukung logistik pengiriman senjata melalui udara, kereta, atau laut.

“Keputusan ini bukan berarti Italia melemahkan dukungan ke Ukraina, melainkan ingin berkontribusi dengan cara lain,” kata seorang pejabat Kementerian Pertahanan Italia.

Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski, angkat suara soal skema ini.

Ia menilai pembayar pajak Eropa seharusnya tidak menanggung biaya pembelian senjata AS.

“Siapa yang harus membayar peralatan Amerika? Haruskah pembayar pajak Eropa, atau agresor yang membayarnya dengan dana beku mereka?” kata Sikorski di sela pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa.

Gagasan skema pendanaan ini muncul dari Jerman dan Mark Rutte, sebagai langkah menambal ketidakpastian sikap Trump soal bantuan langsung AS.

Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan Berlin “sangat besar” berinvestasi dalam program ini, demi menekan Rusia agar mau bernegosiasi damai.

Trump sendiri, pada 15 Juli, memastikan pengiriman tambahan rudal Patriot dan senjata lain sudah berjalan.

Inggris, Belanda, dan negara-negara Nordik disebut mendukung penuh mekanisme baru ini.

Penolakan Prancis dan Italia menunjukkan tantangan bagi Eropa dalam menyeimbangkan prioritas pertahanan domestik dan bantuan nyata untuk Ukraina di medan perang. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved