Lipsus Chromebook
5 Chromebook SDN 21 Dungingi Kota Gorontalo Rusak, Layar Jadi Warna-Warni
Program bantuan digital dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/CHROMEBOOK-Kondisi-Chromebook-di-SDN-21-Dungingi-Kota-Gorontalo-Kamis-1772025.jpg)
Jumlah tersebut dinilai masih cukup memadai, mengingat jumlah siswa SDN 21 Dungingi tidak sebanyak sekolah-sekolah lain di pusat Kota Gorontalo.
Jumlah murid di sekolah ini berkisar antara 110 hingga 130 siswa.
Hal ini disebabkan karena letak sekolah yang berdekatan dengan beberapa SD negeri maupun swasta, sehingga penyebaran siswa menjadi lebih merata.
Meski tidak menjadi kebutuhan mendesak, pihak sekolah tetap menyampaikan keinginan untuk memperbaiki lima unit Chromebook yang rusak.
Namun, terbatasnya dana operasional sekolah (BOS) menjadi kendala utama.
"Dana pemeliharaan hanya sekitar 20 persen dari total pagu anggaran selama setahun," jelas Dewi.
Ia menambahkan bahwa ada banyak item lain yang lebih menjadi prioritas untuk dilakukan pemeliharaan melalui dana tersebut.
Faktor penyebab rusaknya lima Chromebook dengan kondisi layar "warna-warni" juga dikaitkan dengan jarangnya perangkat digunakan, serta penyimpanan yang hanya dilakukan di dalam lemari biasa, bukan laboratorium.
"Mungkin karena jarang dipakai, kalau saya tanya ke teman-teman biasanya juga karena jarang penggunaan," ungkap seorang guru.
Selain itu, Dewi menyebutkan bahwa penggunaan Chromebook tidak hanya dilakukan oleh guru, tetapi juga melibatkan siswa-siswi.
Menurutnya, hal ini membuat perangkat lebih rentan mengalami kerusakan karena tidak seluruh aktivitas siswa dapat diawasi secara ketat.
"Ini bukan hanya guru yang gunakan, tapi juga siswa," tuturnya.
SDN 50 Dumbo Raya
Chromebook bantuan pemerintah pusat di SDN 50 Dumbo Raya, Kota Gorontalo, memang masih berfungsi baik meski sudah digunakan sejak tahun 2020.
Namun, di balik kondisinya yang awet, para siswa, terutama di kelas rendah, ternyata kesulitan mengoperasikannya.