Berita Internasional
Trump Sentil Korea Selatan Soal Biaya Perlindungan Militer
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Kali ini, ia menyinggung Korea Selatan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KEBIJAKAN-AS-Presiden-AS-Donald-Trump-saat-menyampaikan-pernyataan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial.
Kali ini, ia menyinggung Korea Selatan yang dinilainya tak cukup berkontribusi dalam menanggung biaya kehadiran pasukan militer AS di negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Selasa waktu setempat.
Rapat ini digelar sehari setelah ia mengumumkan rencana pengenaan tarif impor sebesar 25 persen terhadap produk Korea Selatan.
"Ini sangat tidak adil. Kami memasok kekuatan militer ke banyak negara yang sangat sukses," ujar Trump kepada para wartawan.
"Korea Selatan menghasilkan banyak uang, mereka hebat. Tapi mereka seharusnya membayar sendiri biaya militernya," lanjutnya.
Menurut Trump, selama masa jabatannya yang pertama, ia berhasil membuat Korea Selatan menyetujui kenaikan biaya untuk mendukung keberadaan militer AS.
Namun, kesepakatan itu disebutnya dibatalkan oleh penggantinya, Presiden Joe Biden.
"Aku bilang ke Korea Selatan... kami memberi kalian militer secara cuma-cuma, atau nyaris tanpa biaya," kata Trump.
Ia mengklaim sempat meminta Seoul membayar sebesar 10 miliar dolar AS per tahun.
"Dengan satu panggilan telepon, saya dapatkan 3 miliar... tapi saya bilang, tahun depan kita harus bicara lagi," ujarnya.
Trump juga menyebut kehadiran pasukan AS di negara lain sebagai "keuntungan ekonomi besar" bagi negara tuan rumah.
"Itu seperti punya satu kota sendiri. Uangnya luar biasa besar bagi mereka, dan sangat merugikan bagi kami. Jadi kami bicara, dengan cara yang baik, kami bicara dengan mereka," tegasnya.
Sebagai informasi, sekitar 28.500 tentara Amerika saat ini ditempatkan di Korea Selatan yang merupakan warisan dari Perang Korea 1950–1953.
Kehadiran pasukan ini menjadi bagian dari payung pertahanan nuklir AS yang melindungi Korea Selatan dari ancaman Cina, Rusia, dan Korea Utara.