Jumat, 6 Maret 2026

Perang Iran dan AS

Donald Trump Ancam Siapkan Kekuatan Lebih Besar Jika Iran Balas Serang AS

Presiden Amerika Serikat (AS) mengancam Iran untuk tidak memperbesar konflik di Timur Tengah.

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab

TRIBUNGORONTALO.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) mengancam Iran untuk tidak memperbesar konflik di Timur Tengah.

Trump bahkan memperingatkan bahwa serangan AS di situs nuklir utama Iran bukanlah pertama dan terakhir.

Pemimpin tertinggi Negeri Paman Sam itu menegaskan AS akan menyiapkan kekuatan lebih besar jika Iran berani menyerang balik.

“setiap pembalasan dari Iran akan dibalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.”

Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah Trump mengonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Esfahan, bergabung dengan kampanye militer Israel yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.

“Serangan ini sukses besar. Semua pesawat telah keluar dari wilayah udara Iran dan kembali dengan selamat,” ujar Trump dalam unggahan terpisah.  

Ia menyebut bahwa bom-bom dijatuhkan secara penuh di situs Fordow yang dikenal memiliki sistem pengayaan uranium bawah tanah yang sangat terlindungi.

Trump menambahkan, serangan itu melibatkan pesawat B-2 stealth bomber, satu-satunya armada udara yang mampu membawa bom bunker-buster seberat 13.500 kilogram, yang dirancang khusus untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah seperti Fordow. 

Langkah Amerika ini disebut sebagai keputusan yang sangat berisiko, karena sebelumnya, Iran telah memperingatkan akan adanya balasan jika AS ikut serta dalam operasi militer Israel. 

Pada Rabu lalu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan, serangan terhadap Iran “akan membawa kerusakan yang tak dapat diperbaiki bagi mereka yang menyerang.” 
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menanggapi serangan AS dengan mengatakan, “perang dimulai sekarang.” 

Hal itu menandai peningkatan konflik dari serangkaian serangan drone dan rudal menjadi kemungkinan perang besar di Timur Tengah.

Situasi di kawasan kini semakin genting. Israel meningkatkan status siaga nasionalnya, dan militer AS telah memindahkan sejumlah kapal perang serta pesawat tempur ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir guna mengantisipasi eskalasi lebih lanjut.

Baca juga: Apa Dampak Konflik AS dan Iran bagi Indonesia? Pengamat Ingatkan Efek Domino

Trump terancam dimakzulkan

Diberitakan sebelumnya, serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran membuat Donald Trump berpotensi dimakzulkan dari jabatan kepresidenan.

Pasalnya, pengeboman tiga fasilitas utama nuklir Iran itu dilaksanakan tanpa persetujuan Kongres AS.

Adapun rencana pemakzulan Trump disampaikan langsung oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, Alexandria Ocasio-Cortez (AOC).

"Keputusan presiden yang membawa bencana untuk mengebom Iran tanpa otorisasi merupakan pelanggaran berat terhadap Konstitusi dan Kekuasaan Perang Kongres," tulis AOC seperti dikutip Kompas.com dari X.

AOC menambahkan, serangan terhadap Iran merupakan keputusan impulsif yang berisiko menyeret AS ke dalam perang. 

"Ini dapat menjerat kita selama beberapa generasi. Itu benar-benar dan jelas merupakan alasan untuk pemakzulan," papar AOC.

Anggota DPR lain dari Partai Demokrat Sean Casten dari Illinois juga menyerukan potensi pemakzulan Trump. 

Dia berpendapat bahwa perintah presiden untuk mengebom lokasi nuklir Iran tanpa meminta persetujuan Kongres dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum. 

Casten menulis di media sosial bahwa ini bukanlah tentang program nuklir Iran, sebagaimana dilansir Fox News.

"Untuk lebih jelasnya, saya tidak membantah bahwa Iran adalah ancaman nuklir," jelas Casten. 

Namun, ia menekankan bahwa tidak ada presiden yang berwenang mengebom negara lain yang tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap AS tanpa persetujuan Kongres.  

"Ini adalah pelanggaran yang jelas dan dapat dimakzulkan," tutur Casten. 

Seruan pemakzulan merupakan representasi yang paling nyata dari kemarahan partai Demokrat terhadap Trump karena mengambil tindakan sepihak terhadap Iran

Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries menulis bahwa Trump gagal mencari otorisasi Kongres untuk penggunaan kekuatan militer.

"Berisiko melibatkan Amerika dalam perang yang berpotensi membawa bencana di Timur Tengah," tutur Jeffries. 

"Donald Trump memikul tanggung jawab penuh dan total atas segala konsekuensi buruk yang timbul dari tindakan militer sepihaknya," sambungnya.

Meskipun eksekutif secara teknis tidak memiliki kewenangan hukum untuk memerintahkan serangan militer asing tanpa persetujuan Kongres, beberapa presiden sebelumnya, termasuk Bill Clinton, Barack Obama, dan Trump selama masa jabatan pertamanya, melancarkan tindakan militer serupa di Libya, Sudan, Afghanistan, dan Iran.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance membela penuh keputusan Trump menyerang Iran

"Pertama-tama, presiden memiliki kewenangan yang jelas untuk bertindak guna mencegah penyebaran senjata pemusnah massal," kata Vance di acara Meet the Press with Kristen Welker di NBC. 

 

 

(TribunGorontalo.com/Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved