Human Interest Story
Umar Airmas Tukang Jahit di Pasar Satya Pradja Gorontalo yang Bertahan Mesi Sepinya Pelanggan
Umar Airmas (66), seorang penjahit pakaian senior di Pasar Satya Pradja Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, membagikan kisah perjuangan hidupnya yang
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/HIS-TUKANG-JAHIT-Cerita-Umar-Airmas-66-tukang-jahit-di-Pasar-Satya-Pradja-Kota-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Umar Airmas (66), seorang penjahit pakaian senior di Pasar Satya Pradja Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, membagikan kisah perjuangan hidupnya yang memilukan.
Ditemui saat sedang sibuk dengan benang dan jarumnya pada Senin (16/6/2025), Umar mengungkapkan betapa sulitnya bertahan di pasar yang kini sepi pelanggan.
Umar menceritakan, penghasilannya di pasar ini menurun drastis. Ia bahkan pernah tidak mendapatkan orderan sama sekali selama tiga hari berturut-turut.
"Selalu kosong di sini saya pak, bahkan saya selama tiga hari pernah tidak dapat apa-apa," ungkapnya dengan nada sendu.
Dengan empat anak dan satu cucu yang menjadi tanggungannya setelah sang istri meninggal dunia, Umar harus memutar otak agar dapur tetap mengepul.
Uang yang ia dapatkan hari ini seringkali harus dihemat mati-matian untuk beberapa hari ke depan.
"Saya kadang pergunakan uang lain-lain karena saya tahu tiga hari ke depan itu tidak akan dapat uang," jelas Umar.
Setiap hari, mulai pukul 08.00 WITA, Umar berangkat dari rumahnya di Andalas Kota Gorontalo menuju pasar dengan motornya. Ia baru kembali sekitar pukul 18.00 WITA.
Tak jarang, ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun, hanya bisa meminta keluarganya untuk bersabar.
"Kadang saya tidak bawa uang sama sekali, saya hanya bilang sabar," katanya.
Bertahan di Tengah Keterbatasan dan Harapan untuk Pasar
Umar sudah bertahun-tahun lamanya mengabdi di Pasar Satya Pradja. Meski sepi, ia mengaku tak bisa beralih pekerjaan lain karena faktor usia.
"Kalau saya beralih ke pekerjaan lain saya ini sudah tua saya sudah tidak mampu lagi," tuturnya.
Saat ini, sebagian besar pelanggannya hanya datang untuk permak baju, dengan tarif sekitar Rp20 ribu.
Orderan untuk menjahit pakaian baru sangat jarang. "Di sini saya tinggal langganan saja yang datang itu pun mereka tidak tiap hari," kata Umar.
Menurut Umar, salah satu penyebab sepinya pasar adalah lokasinya yang tersembunyi, terhalang oleh bangunan lain di depannya.
"Ini kan ada bangunan di depan, harusnya ini dibuka biar masyarakat tahu ini pasar," ujarnya penuh harap.
Umar sangat berharap Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea dapat memberikan perhatian dan "warna baru" untuk pasar ini. Apalagi, bangunan pasar itu sendiri dibangun di masa kepemimpinannya.
Kondisi Pasar Satya Pradja sendiri memang memprihatinkan. Penjahit yang tersisa hanya empat orang, selebihnya sudah meninggal dunia.
Lantai dua pasar sudah sepenuhnya kosong, dan sebagian lapak di lantai satu juga sudah tutup. Pasar ini terlihat kotor dan terbengkalai, seolah kehilangan denyut kehidupannya. (*)
| Kisah Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun Penjual Gulali di Taman Kalimadu Gorontalo |
|
|---|
| Sosok Abdul Gias Tomayahu, Penulis Muda Asal Leboto Gorontalo Peraih 4 Medali Emas Nasional 2025 |
|
|---|
| Cerita 2 Pemudi Jualan Takjil Ramadan di Kota Gorontalo |
|
|---|
| Tips Kuat Puasa saat Bekerja ala Kasmat dan Sasmita, Pegawai Minimarket Gorontalo |
|
|---|
| Sejak 1985, Ridwan Baat Setia Jual Balon Karakter di Kota Gorontalo, Terbukti Mampu Sekolahkan Anak |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.