Rabu, 18 Maret 2026

Polemik Mie Gacoan Gorontalo

Ultimatum Wali Kota Gorontalo untuk Mie Gacoan, Lapor Polisi atau Ditutup

Baru saja dibuka enam hari lalu, kini Mie Gacoan terancam disegel oleh Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea.

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Ultimatum Wali Kota Gorontalo untuk Mie Gacoan, Lapor Polisi atau Ditutup
TribunGorontalo.com
POLEMIK MIE GACOAN — Kolase foto Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea dan Mie Gacoan. Wali Kota Gorontalo akan menyegel Mie Gacoan perihal upah buruh bangunan yang belum dibayar kontraktor. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Mie Gacoan di Jalan Nani Wartabone, Kota Gorontalo mengalami polemik berkelanjutan.

Baru saja dibuka enam hari lalu, kini Mie Gacoan terancam disegel oleh Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea.

Saat dikonfirmasi, Adhan menegaskan pihaknya bakal menutup sementara Mie Gacoan mulai besok, Selasa (17/6/2025).

"Saya perintahkan antar suratnya, dihentikan aktivitas di situ mulai besok," ungkap Adhan Dambea kepada TribunGorontalo.com, Senin (16/6/2025).

Mengapa Mie Gacoan Akan Ditutup Wali Kota Gorontalo?

Penutupan sementara Mie Gacoan ini berkaitan indikasi gaji pekerja yang belum dilunasi pihak kontraktor.

Diketahui, sejumlah buruh bangunan proyek Mi Gacoan di Kota Gorontalo belum menerima upah dari kontraktor pelaksana yakni PT Brian Jaya.

Penunggakan itu berlangsung selama enam bulan, dengan total nilai mencapai sekitar Rp100 juta.

Kondisi ini memicu keprihatinan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Peduli Masyarakat Kota Gorontalo.

Pada Kamis (12/6/2025), mereka menggelar aksi demonstrasi di depan DPRD Kota Gorontalo, menuntut pembayaran hak-hak buruh tersebut.

Menurut Arya Sahrain, perwakilan Aliansi Pemuda Peduli Masyarakat Kota Gorontalo, para buruh yang bekerja di bawah naungan PT Brian Jaya ini belum menerima upah sejak Desember 2024 hingga Juni 2025.

"Berdasarkan pengakuan kepala mandor, upah mereka sekitar Rp100 juta belum dibayarkan," ungkap Arya kepada TribunGorontalo.com, Kamis.

Akibat penunggakan gaji ini, para pekerja kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, bahkan untuk membayar iuran BPJS pun mereka tak memiliki uang.

Massa aksi mendesak manajemen Mie Gacoan untuk mendesak PT Brian Jaya segera melunasi tunggakan upah buruh.

"Jadi kami meminta Mie Gacoan untuk mendesak pihak ketiga untuk membayar gaji mereka," jelas Arya.

Wali Kota Minta Mie Gacoan Lapor Polisi

Adhan mendesak Mie Gacoan segera melapor ke Polresta Gorontalo Kota perihal upah buruh.

Kendatipun masalah gaji ini diduga kelalaian pihak ketiga, Adhan justru mempertanyakan tanggung jawab Mie Gacoan.

"Kalau itu benar, maka Mie Gacoan lapor ke polisi. Tapi sampai dengan sekarang belum melapor, berarti kesalahan ada sama mereka," terang Adhan.

Wali Kota juga menyayangkan keputusan Mie Gacoan yang memilih menggunakan kontraktor dari Kalimantan, alih-alih memberdayakan kontraktor lokal Gorontalo.

"Itu salah mereka kenapa ambil kontraktor dari luar, masih banyak kontraktor dari Gorontalo," tutur Adhan.

Oleh sebab itu, Adhan Dambea memberikan ultimatum kepada pihak Mie Gacoan.

"Kita tutup selama Mie Gacoan belum melapor ke Polresta Gorontalo Kota," tegasnya.

Adhan mengakui bahwa dirinya sangat mendukung investor masuk Kota Gorontalo, namun setiap investor harus mengikuti regulasi yang berlaku.

"Kita memang butuh investasi tetapi bukan investasi yang merugikan rakyat," pungkasnya.

Mengenal Mie Gacoan

Bisnis kuliner milik Anton Kurniawan ini resmi dibuka di Jl Nani Wartabone, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Rabu (11/6/2025).

Sejak hari pertama dibuka, para pembeli membeludak hingga membuat pelayan kewalahan.

Dari sisi sejarah, Mie Gacoan pertama kali didirikan pertama kali pada awal tahun 2016 di Malang, Jawa Timur.

Per tahun 2025, Mie Gacoan telah memiliki lebih dari 280 gerai di seluruh Indonesia. Mayoritas tersebar di Pulau Jawa, dan berhasil mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan.

Nama "Gacoan" sendiri diambil dari Bahasa Jawa, berarti jagoan atau andalan.

Anton Kurniawan, pengusaha asal Malang adalah sosok pendiri Mie Gacoan.

Ia dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak tampil di depan publik, sehingga informasi mengenai dirinya cukup terbatas.

Karena minimnya informasi ini, banyak pihak sempat salah mengutip Harris Kristanto, Chief Operating Officer (COO) Mie Gacoan yang beretnis Tionghoa dari Kota Surakarta, sebagai pendiri perusahaan.

Fenomena mi goreng pedas sebenarnya bukan hal baru di Malang. 

Bisnis ini dipelopori oleh Kober Mie Setan yang didirikan Gemmy Ramadhan pada tahun 2010.

Kober Mie Setan mempopulerkan pembagian menu mi seperti Angel (gurih tidak pedas), Setan (gurih pedas), dan Iblis (manis), yang kemudian banyak ditiru oleh kompetitor, termasuk Mie Gacoan.

Mie Gacoan berhasil melampaui para pesaingnya berkat strategi ekspansi yang sangat agresif sejak akhir 2010-an. Cabang pertama di luar Jawa dibuka di Pakerisan, Denpasar, Bali pada tahun 2018.

Ekspansi berlanjut ke Pulau Sumatra (Medan, 2022), Pulau Sulawesi (Gowa, 2023), dan Pulau Kalimantan (Balikpapan MT Haryono, 2024).

Dengan dibukanya cabang Kayu Tangi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 10 Februari 2025, Mie Gacoan kini telah hadir di 24 dari 38 provinsi di Indonesia.

 

 

(TribunGorontalo.com/*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved