Profil Tokoh

Profil Hariyono Bokingo, Dulu Petugas Meteran Kini Jabat Direktur Perumda Tirta Boalemo Gorontalo

Hariyono Bokingo saat ini menjabat sebagai Direktur Perumda Tirta Boalemo, Provinsi Gorontalo.

Penulis: Nawir Islim | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Profil Hariyono Bokingo, Dulu Petugas Meteran Kini Jabat Direktur Perumda Tirta Boalemo Gorontalo
TribunGorontalo.com/Nawir Islim
PROFIL TOKOH -- Hariyono Bokingo saat ditemui TribunGorontalo.com di ruang kerjanya pada Senin (16/6/2025). Hariyono bercerita pengalamannya bekerja di Perumda Tirta Boalemo. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Hariyono Bokingo saat ini menjabat sebagai Direktur Perumda Tirta Boalemo, Provinsi Gorontalo.

Kepada TribunGorontalo.com, Hariyono menceritakan perjalanan kariernya.

Lantas, siapa Hariyono Bokingo?

Profil Hariyono Bokingo

Hariyono Bokingo berasal dari Paguyaman, Kecamatan Boalemo, Provinsi Gorontalo.

Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. 

Sejak kecil, Hariyono diterpa cobaan berat. Sang ayah meninggal dunia saat Haryono baru berusia 4 tahun. 

"Karena kondisi itu, saya memang sudah terbiasa mandiri. Kalau tidak kuat, siapa lagi yang bantu? Harus jalan sendiri," ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Selasa (16/6/2025).

Baca juga: ‎BREAKING NEWS: Komisioner KPU Kota Gorontalo Junaidi Yusrin Jadi Tersangka Kasus Proyek Fiktif

Ia mengawali pendidikan di SDN 4 Paguyaman. Kemudian berlanjut ke SMP Negeri 1 Paguyaman hingga SMA Negeri 1 Paguyaman. 

Tahun 2003, Hariyono diterima bekerja di Badan Pengelolaan Air Minum (BPAM) Cabang Paguyaman, yang kini dikenal sebagai Perumda Tirta Boalemo

Saat itu, Hariyono dipekerjakan sebagai petugas cek meter pelanggan dengan gaji Rp50 ribu per bulan.

Kala itu Hariyono belum memiliki kendaraan, sehingga ia harus berjalan kaki setiap hari untuk mengunjungi rumah-rumah pelanggan.

"Kadang saya capek sekali. Kalau tetangga saya lagi tidak pakai sepeda, saya pinjam. Tapi lebih sering jalan kaki, bawa buku catatan dan bolpoin," katanya.

Masih di tahun 2003, Hariyono juga memulai kehidupan barunya sebagai suami. 

Ia menikah dan mulai membangun rumah tangga di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

Di masa awal kerjanya  ia mulai merasa bahwa sistem kerja yang masih manual menyulitkan pelayanan. 

Data pelanggan yang dicatat tangan, seringkali terlambat masuk ke laporan karena tidak adanya komputer.

Ia pun nekat menjual sapi kesayangannya untuk membeli komputer pribadi. 

“Waktu itu banyak yang tidak setuju dengan keputusan saya, bahkan Ibu dan istri saya juga sempat tidak setuju. Tapi saya tahu apa yang saya lakukan,” ujarnya. 

Ia memanfaatkan komputer untuk mengetik laporan-laporan data pelanggan agar pelayanan tidak terhambat.

Baca juga: Peran 3 Tersangka Proyek Fiktif Bantuan Kemenaker Gorontalo, Pengusaha Sembako Rugi Rp 550 Juta

“Saya tidak mau pelanggan dirugikan hanya karena kantor tidak punya komputer. Jadi saya yang berkorban dulu,” kenangnya.

Selain membeli komputer, Hariyono juga butuh kendaraan untuk menunjang kerja dan juga penghasilan tambahan.

Ia kembali menjual sapinya dan membeli sepeda motor seharga Rp 7 juta. Ia mengangsur kendaraan roda dua itu setiap bulan.

Di pagi hari, sebelum berangkat kerja, ia rutin mengantar sang istri untuk berjualan kue. 

Sementara di akhir pekan, ia menjadi tukang ojek di sekitar Pasar Paguyaman.

“Dulu motor belum banyak, orang mau ke pasar susah. Jadi saya manfaatkan motor itu bukan cuma buat kerja tapi juga buat bantu orang dan cari tambahan,” bebernya.

Setelah lima tahun mengabdi di kantor cabang Paguyaman, Hariyono dimutasi ke kantor pusat Perumda Tirta Boalemo di Tilamuta pada tahun 2008, 

Ia dipercaya menangani pembelian. Gajinya pun meningkat.

"Alhamdulillah saat itu gaji saya naik hingga 250 ribu," ucapnya.

Kerja kerasnya terus berbuah hingga pada tahun 2012, ia diangkat menjadi Kepala Seksi Pembukuan. 

Pada tahun yang sama, Hariyono melanjutkan studi di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) pada tahun 2012. Ia menjalani kehidupan kampus sembari bekerja.

Hariyono kemudian dipercaya sebagai Kepala Seksi Penagihan, lalu Kepala Bagian Umum dan Keuangan pada 2016, hingga menjadi Manajer Umum dan Keuangan di tahun 2019.

Setelah lebih dari dua dekade mengabdi, pada 2024 Hariyono dipercaya menjadi Manajer Umum dan Hubungan Langganan. 

Tak lama berselang, di tahun 2025, Hariyono Bokingo diangkat sebagai Direktur Perumda Tirta Boalemo. Ia dilantik oleh Bupati Boalemo, Rum Pagau.

“Bagi saya ini amanah besar tapi saya akan menjadikan amanah ini bisa bermanfaat bagi orang banyak,” ungkapnya.

Setelah kehidupannya mulai stabil, Hariyono tidak berhenti di pekerjaan utama. Ia membangun usaha katering makanan di Paguyaman sejak tahun 2020. 

Ia membuka sebuah kafe dan resto di dekat Jembatan Soeharto, Tilamuta. 

Tempat itu dinamai Dapoer Yaayu, yang merupakan akronim dari dua nama istrinya: Yanti dan Ayu.

“Nama itu simbol perjuangan keluarga. Mereka yang mendukung saya, saya abadikan dalam bisnis ini,” ujarnya sambari tersenyum.

KHariyono pun berpesan kepada generasi penerus untuk menekuni bidang masing-masing.

“Jangan malu kerja kecil. Saya digaji Rp50 ribu, jalan kaki, jual sapi demi beli komputer. Tapi saya percaya, kalau kita bela sesuatu dengan sungguh-sungguh, hasilnya akan datang. Kita sendiri yang tentukan masa depan kita, bukan omongan orang,” tutupnya.

 

(TribunGorontalo.com/Nawir Islim)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved