Berita Viral

Selamat dari Lautan Hindia, Kisah Ibu dan Dua Anak yang Bertahan Hidup 4 Hari di Tengah Samudra

Perjalanan menuju Pulau Enggano yang seharusnya menjadi bagian dari penghormatan terakhir untuk sang suami, justru berubah menjadi mimpi buruk.

Editor: Minarti Mansombo
zoom-inlihat foto Selamat dari Lautan Hindia, Kisah Ibu dan Dua Anak yang Bertahan Hidup 4 Hari di Tengah Samudra
via TribunBengkulu.com
BERTAHAN HIDUP DITENGAH LAUT-Perjalanan menuju Pulau Enggano yang seharusnya menjadi bagian dari penghormatan terakhir untuk sang suami, justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Dowinta, atau yang akrab disapa Dodo. Bersama dua anaknya yang masih kecil, Dodo terombang-ambing di Lautan selama empat hari, setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami kerusakan baling-baling dan kehilangan arah. 

Sementara itu, Basarnas Bengkulu telah menerima laporan terkait insiden kapal hilang tersebut.

Upaya pencarian pun sempat mengalami kendala karena KM Altaf tidak dilengkapi dengan radio komunikasi.

"Satu-satunya alat komunikasi di kapal hanya handphone. Sedangkan di tengah laut, kita tahu sendiri jaringan tidak tersedia," jelas Humas Basarnas Bengkulu, Mega Maysilva, pada Senin (26/5/2025).

Meski begitu, pihak Basarnas telah berkoordinasi dengan sejumlah nelayan yang dikabarkan akan bertolak ke Enggano hari ini.

Selain itu, tim pencarian juga tengah dipersiapkan untuk menyisir kemungkinan lokasi keberadaan kapal yang hilang.

Ternyata, kapal yang ditumpangi Dodo mengalami kerusakan pada baling-baling Sabtu malam, dan terombang-ambing tak terkendali.

Baca juga: Tangis Keluarga Korban Pecah, Hakim: Akri Djafar Ali di Vonis Seumur Hidup Pembunuh MI di Bitung

Bahkan, kapal yang ditumpanginya malah menghadap ke Samudra Hindia yang luas.

Dodo menjelaskan, selama itu, aktivitas mereka hanya makan, tidur, dan memandangi sekeliling, berharap ada kapal lain yang lewat dan menyelamatkan mereka.

Di malam hari, mereka sempat melihat titik-titik cahaya dari kapal lain.

"Tapi kami tidak bisa menghubungi mereka. Sinyal yang kami berikan juga tak sampai," ungkap Dodo kepada Tribun Bengkulu, Kamis (29/5/2025).

Dodo mengaku sempat merasa putus asa.

Anak-anaknya pun sering bertanya kapan mereka akan dijemput.

Sambil berkaca-kaca dengan suara bergetar, Dodo berkata, jika hanya dirinya, mungkin bisa lebih ikhlas menerima keadaan.

Namun, dia ingat anak-anak yang baru saja kehilangan sang ayah, dan tujuan perjalanan ke Enggano adalah untuk tujuh hari kematian dan upacara adat almarhum.

"Anak-anak yang saya pikirkan. Sudah kehilangan bapak, kok bisa mengalami kejadian terombang-ambing di lautan seperti ini," ujarnya.

Baca juga: Anggaran Sekolah Gratis SD-SMP Bisa Tembus Rp 84 Triliun! Pemerintah Pusing Tujuh Keliling?

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved