Negara Paling Sejahtera
Indonesia Jadi Negara Paling Sejahtera di Dunia Kalahkan Amerika, Hasil Riset Kampus Terkenal
Hasil studi dari Harvard University, Indonesia ternyata menduduki peringkat teratas sebagai negara paling sejahtera.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Indonesia-negara-paling-sejahtera-8888.jpg)
Salah satu penulis studi, Brendan Case menegaskan, temuan ini bukan berarti kekayaan, umur panjang, demokrasi, pertumbuhan ekonomi, atau kesehatan masyarakat tidak penting.
"Namun, menarik untuk dipikirkan bahwa Studi Kemakmuran Global menimbulkan beberapa pertanyaan penting tentang kemungkinan adanya hal-hal yang harus dikorbankan dalam proses tersebut," ujarnya.
3 temuan penting
Tim riset Harvard mengidentifikasi tiga temuan penting yang berkaitan dengan usia, kesehatan mental, dan hubungan sosial. Tiga faktor tersebut sangat memengaruhi peringkat Amerika Serikat dalam studi ini.
Salah satu temuan utama adalah kaitan antara usia dan kesejahteraan ternyata berbeda-beda di setiap negara.
Selama ini, banyak pihak yang percaya bahwa kepuasan hidup cenderung tinggi pada usia muda, menurun saat paruh baya, lalu kembali meningkat seiring bertambahnya usia.
Namun, hal tersebut tidak selalu berlaku jika dilihat dari sisi kemakmuran, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara berpendapatan tinggi lainnya.
Di AS, tingkat kemakmuran justru cenderung meningkat secara konsisten seiring bertambahnya usia.
Selain itu, kesehatan mental juga menjadi faktor penting. Meski kondisi fisik relatif stabil seiring waktu, banyak anak muda khususnya di AS terhambat oleh masalah kesehatan mental yang buruk.
Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan rutin dalam kegiatan kelompok, terutama kegiatan keagamaan seperti menghadiri gereja setiap minggu, umumnya membantu seseorang untuk lebih berkembang dalam hidupnya.
Kekayaan bukan jaminan kebahagiaan
Ada dua negara berpendapatan tinggi yang berhasil masuk ke dalam 5 daftar teratas, yakni Israel dan Polandia.
Sebagian besar penduduk di negara maju melaporkan bahwa hubungan sosial dan rasa komunitas mereka kurang bermakna, kurang memuaskan, serta jarang merasakan emosi positif dibandingkan dengan mereka yang tinggal di negara berkembang.
Sebaliknya, orang-orang di negara-negara berkembang mungkin tidak memiliki penghasilan tinggi, tapi mereka justru menikmati hubungan persahabatan, pernikahan yang kuat, dan keterlibatan aktif dalam masyarakat, terutama dalam komunitas keagamaan.
"Kita perlu mencari cara untuk mendorong pembangunan ekonomi tanpa mengorbankan makna, tujuan, dan hubungan," tulis peneliti tersebut, dikutip dari New York Times.
| Khansya Alya Najwa Mahasiswi FK UNG Jalani Program Pertukaran dan Kolaborasi Medis Lintas Negara |
|
|---|
| Identitas Lansia Ditemukan Meninggal usai Hanyut di Sungai Paguyaman Gorontalo |
|
|---|
| Bacaan Niat Salat Tarawih dan Doa Setelah Witir Lengkap Arab-Latin |
|
|---|
| Geger! Ular Cobra Bersembunyi di Kamar Rumah Warga Tenilo Kota Gorontalo |
|
|---|
| Sudah Disiapkan Rp2,3 Miliar, Kapan THR PPPK Paruh Waktu Kota Gorontalo Dibayarkan? |
|
|---|