Berita Nasional
Update Kasus Remaja Tewas di Polsek, Terungkap CCTV Mati saat Penganiayaan
Fakta baru kembali terungkap dalam sidang lanjutan kasus kematian Ragil Alfarizi (21), tahanan Polsek Kumpeh Ilir, Kabupaten Muaro Jambi, yang digelar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PENGANIAYAAN-Yuyun-Sanjaya-eks-anggota-Polsek-Kumpe-Ilir.jpg)
Senada dengan Rendra, saksi lain bernama Madotila, seorang petugas harian lepas bagian administrasi di Polsek Kumpeh Ilir, juga memberikan keterangan yang memberatkan.
Madotila mengaku bahwa selama ia bertugas, sel tahanan di polsek tersebut tidak pernah digunakan untuk menahan siapapun.
Bahkan, kunci sel tahanan hanya dipegang oleh Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim).
"Yang bisa buka itu cuma Kanit, karena cuma dia yang pegang kunci gemboknya," jelas Mardotila.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya belum pernah menyaksikan adanya penahanan di dalam sel dan tidak berada di lokasi saat kejadian nahas menimpa Ragil.
Baik Rendra maupun Madotila mengetahui kabar kematian Ragil dari grup WhatsApp Polsek yang menyertakan foto korban dalam posisi telentang di dalam sel.
Sebagai pengingat, Ragil Alfarizi ditangkap pada 4 September 2024 malam atas dugaan kasus pencurian dan langsung ditahan di ruang tahanan Polsek Kumpeh Ilir.
Namun, beberapa jam kemudian, pihak kepolisian mengklaim menemukan Ragil tewas dalam posisi tergantung menggunakan tali pinggang.
Keluarga korban sejak awal mencurigai kejanggalan dalam kematian Ragil dan menolak mentah-mentah klaim bunuh diri.
Desakan keluarga untuk dilakukan autopsi akhirnya membuahkan hasil, dan fakta mengerikan terungkap: Ragil tewas akibat luka-luka penganiayaan.
Kasus ini kemudian menyeret dua anggota polisi Polsek Kumpeh Ilir, Faskal (Bhabinkamtibmas) dan Yuyun (anggota Reskrim), sebagai tersangka.
Kematian tragis Ragil bahkan sempat memicu kemarahan warga setempat yang berujung pada aksi penyerangan dan perusakan kantor Polsek Kumpeh Ilir.
Sidang lanjutan ini semakin menguak upaya rekayasa kematian Ragil dan dugaan kuat pelanggaran SOP dalam proses penahanannya.
Fakta bahwa CCTV yang seharusnya merekam kejadian justru rusak semakin menimbulkan pertanyaan besar terkait transparansi dan akuntabilitas dalam kasus ini.
(*)