Human Interest Story
Kisah Syam Ismail, Pria Paruh Baya di Gorontalo Jualan Bantal Keliling Pakai Sepeda Ontel
Syam merupakan warga Kelurahan Siendeng, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Dirinya berjualan bantal keliling dari wilayah ke wilayah.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Prailla Libriana Karauwan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/djhmdthmdthm.jpg)
Tubuh yang tidak sekuat dulu itu tetap bertahan demi mencari nafkah,
Meskipun sering cepat merasakan lelah dan tubuh yang kerap sakit-sakitan, Syam tetap menggeluti pekerjaannya.
Hal itu dilakukan Syam agar tidak bergantung kepada anaknya.
Meski nafas tersendak-sendak, Syam dengan kuat mengayun sepeda ontelnya untuk menawarkan bantal yang ia jual.
Setiap hari Syam sering membawa sekitar delapan buah bantal, baik itu batal kepala maupun guling.
Bantal-bantal itu ia patok dengan harga Rp75 ribu per buah
Baca juga: Ramalan Zodiak Aries, Taurus dan Gemini Besok Selasa 13 Mei 2025: Cinta hingga Keuangan
“Saya hanya membeli bantal ini dari adik dan keponakan, kalau tidak ada uang saya hutang dulu,” terang Syam.
Ia mengaku bantal-bantalnya sering laku, tapi tidak menentu.
Terkadang dalam tiga hari hanya satu atau dua bantal saja yang terjual.
Kalau tidak laku, kata Syam dirinya hanya bersabar tapi tekatnya untuk mencari uang tidak tergoyahkan.
“Laku dan tidak laku saya pasti kembali ke rumah sekitar jam biasa saya pulang,” jelasnya.
Baca juga: Kebakaran Rumah di Dembe Gorontalo Nyaris Menghanguskan Seorang Nenek Berusia Sekitar 80 Tahun
Menurut Syam laki-laki berjuang untuk hidup menghidupi, sehingga bekerja itu juga sudah menjadi hobinya.
Syam merasa suntuk apabila tidak melakukan aktivitas di rumah, sehingga Syam memilih untuk bekerja.
Menurut Syam, pekerjaan ini bukan hanya ladang untuk mencari uang tapi sebagai bentuk syukur kepada Tuhan karena masih memberikan kesehatan dan umur panjang padanya.
Baca juga: Dicairkan Juni 2025, Apakah Janda dan Duda Masih Dapat Gaji 13 PNS? Ini Jawabannya
“Saya kerja demi keluarga, mau banyak dan tidak kita harus tetap bersyukur,” ungkap Syam sembari terseyum sampai giginya yang tersisa satu itu kelihatan.
Kakek Syam mengajarkan kita arti dari perjuangan seorang laki-laki dan juga seorang ayah dan bersyukur karena diberikan kesehatan. Sesuatu yang tidak bisa dibayar dengan uang.(*)
(TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga)