Human Interest Story
Abdullah Yani, Pria Paruh Baya di Gorontalo Utara Bekerja Sebagai Petani Demi Hidupi Keluarganya
Meskipun umurnya tak lagi muda, tapi semangat bekerja yang dimiliki Abdullah patut diacungi jempol.
Penulis: Efriet Mukmin | Editor: Prailla Libriana Karauwan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/sdgthetryj.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Abdullah Yani, salah seorang petani di Desa Bulalo, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Meskipun umurnya tak lagi muda, tapi semangat bekerja yang dimiliki Abdullah patut diacungi jempol.
Sebagai seorang petani, pria berusia 60 tahun ini menggantungkan hidupnya dari hasil sawah.
Suka duka menjadi seorang petani pun sudah dirasakannya selama bertahun-tahun.
Terik hujan sudah menjadi hal biasa untuknya.
Baca juga: Perkara Tak Dibelikan Motor dan HP, Ayah di Jakarta Utara Tak Mau Jadi Wali Nikah Anak Perempuannya
Lumpur pun kini telah menjadi sahabatnya.
Demi keluarga ia tak mempermasalahkan hal itu.
Saat ditemui TribunGorontalo.com, Minggu (11/5/2025) Abdullah tampak menggunakan baju cokelat yang dipenuhi lumpur sedang membuat petakan tanah di atas lahan persawahannya.
Lengkap dengan topi capingnya, Abdullah membuat petakan tersebut sebagai batas atau pijakan untuk berjalan.
Abdullah tinggal bersama istrinya Maryam Usman dan dianugerahi empat orang anak.
Ketiga anaknya telah menikah dan punya keluarga baru sedangkan anak bungsu masih tinggal bersamanya.
Baca juga: Ngaku Tuhan, Pria di Papua Ini Ajarkan Ibadah Telanjang hingga Bebas Hamili Perempuan
Kata Abdullah, menjadi seorang petani bukanlah hal yang mudah.
Banyak tantangan dan biaya yang besar harus dikeluarkan agar mendapatkan hasil yang maksimal.
"Terutama dalam musim kemarau susah untuk cari air, karena sawah harus ada air terus," ujar Abdullah kepada TribunGorontalo.com, Minggu (11/5/2025).
Tak hanya itu, serangan hama menjadi ancaman penting bagi dunia pertanian.
Tak terkecuali sawah Abdullah yang kerap didapati hama.
Akhirnya, Abdullah pun bukannya untung malah buntung.
Baca juga: Daftar Provinsi di Indonesia dengan Kasus Judi Online pada Anak Tertinggi, Gorontalo Termasuk?
Ia harus menanggung rugi Rp3 jutaan karena hasil sawahnya tidak maksimal.
Padahal kata Abdullah, sawah miliknya telah diberi pupuk serta obat agar dapat tumbuh subur.
Namun, hal itu ternyata tidak seperti yang diharapkan.
"Panen kemarin terbilang gagal karena banyaknya padi yang tidak berisi gara-gara hama ini," lanjutnya.
Walaupun seringkali mengalami hal demikian, Abdullah rasanya tak ingin melepaskan pekerjaannya sebagai petani.
Karena menurutnya, kerugian yang akan ditanggungnya ketika tak menjadi petani akan lebih besar ketimbang rugi gagal panen.
Baca juga: Gadis 16 Tahun Disabilitas Dirudapaksa Tiga kali oleh Oknum Perawat di RS Cirebon, Sang Ibu Trauma
"Ini lahan punya saya, jika dibiarkan begitu saja rugi tidak dimanfaatkan," katanya.
Abdullah pun berusaha semaksimal mungkin setiap panen tidak akan rugi.
Jika belum masa panen, Abdullah akan bekerja sebagai buruh sehari-harinya.
Dengan upah Rp50 - 70 ribu, Abdullah akan mempergunakannya untuk membeli pupuk serta obat untuk tanaman padinya.
Sebagian lagi akan digunakan untuk biaya hidup keluarganya.
Abdullah berkata biaya bertani cukuk tinggi apalagi obat dan pupuk saat ini mahal.
Baca juga: Bantah Tak Pakai APD, Korban Proyek Bendungan Bulango Ulu Gorontalo Disebut Sudah Sesuai Prosedur
Sehingga Abdullah berharap agar petani kecil bisa lebih diperhatikan demi menjaga ketahanan pangan yang menjadi program nasional serta petani bisa hidup sejahtera dihari tua.
"Harapan saya bisa mendapat perhatian dari pemerintah serta solusi terkait penanganan hama agar hasil panen maksimal," tambahnya.
(TribunGorontalo.com/Efriet Mukmin)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.