Berita Nasional
Jepang Krisis Generasi: Balita dan Remaja Semakin Langka
Pertumbuhan penduduk di Jepang terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2025 ini, Jepang mencatatkan rekor terburuk
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KRISIS-GENERASI-MUDA-DI-JEPANG-Jepang-kini-mengalami-krisis-generasi-muda.jpg)
Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa kelompok usia terbesar anak-anak berada pada rentang 12–14 tahun dengan jumlah 3,14 juta jiwa.
Jumlah anak semakin menurun seiring dengan usia yang lebih muda, dengan hanya 2,22 juta anak berusia 0–2 tahun.
Data per 1 Oktober 2024 juga mengungkapkan bahwa seluruh prefektur di Jepang mengalami penurunan jumlah anak dibandingkan tahun sebelumnya.
Wilayah Ibukota Tokyo dan Prefektur Kanagawa menjadi dua wilayah dengan jumlah anak di atas 1 juta jiwa.
Sementara itu, Prefektur Akita mencatatkan rasio anak terendah secara nasional, yaitu 8,8 persen, diikuti oleh Aomori (9,8 persen) dan Hokkaido (9,9 persen).
Di sisi lain, Prefektur Okinawa memiliki rasio anak tertinggi, yaitu 15,8 persen.
Berdasarkan analisis kementerian terhadap data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk 37 negara dengan populasi lebih dari 40 juta, Korea Selatan memiliki rasio anak terendah (10,6 persen), diikuti oleh Jepang (11,1 persen), Italia (11,9 % ), dan Spanyol (12,9 % ).
Data ini semakin menggarisbawahi betapa seriusnya masalah penurunan angka kelahiran dan populasi muda di Jepang dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam terkait masa depan demografi dan sosial ekonomi Jepang. (*)