Tribun UMKM
Iwan Ilahude Warga Gorontalo Bicara Peluang Kerja Jadi Tukang Sol Sepatu: Mudah Dapat Pemasukan
Iwan Ilahude (54), tukang sol sepatu di Jalan Prof Dr Aloei Saboe, Kota Gorontalo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Iwan-Ilahude-saat-memperbaiki-sepatu-pelanggan.jpg)
(Laporan: Mawar Hardiknas Tasya Datunsolang, Peserta Magang dari UNG)
TRIBUNGORONTALO.COM – Iwan Ilahude (54), tukang sol sepatu di Jalan Prof Dr Aloei Saboe, Kota Gorontalo.
Di bawah tenda sederhana, Iwan duduk hadapan tumpukan sandal dan sepatu rusak.
Sudah hampir tiga bulan ia membuka lapak di kawasan ini. Iwan bertahun-tahun merantau di Sulawesi Tengah.
"Saya sudah lama menjahit sandal dan sepatu tapi kalau di Gorontalo baru sekitar dua sampai tiga bulan di sini," ujar Iwan saat ditemui, Senin (28/04/2025).
Iwan mengisahkan, sebelum kembali ke kampung halaman, ia sempat bekerja di berbagai bidang di Sulawesi Tengah.
Setelah pandemi COVID-19 melanda, ia memutuskan pulang ke Gorontalo.
Awalnya, ia sempat menjadi tukang ojek sebelum akhirnya beralih membuat kerajinan dari ban bekas dan menjahit sendal dan sepatu.
"Di belakang itu banyak ban-ban bekas. Saya buat kerajinan kursi, ayunan anak-anak, tempat sampah, sampai penampung air. Bannya saya kumpulkan dari bengkel, gratis karena sudah tidak terpakai," jelasnya sambil menunjuk area belakang lapak.
Lapak kecil yang Iwan tempati saat ini tidak hanya melayani jasa sol sepatu dan sandal, tetapi juga menjadi tempat ia memasarkan hasil kerajinannya.
Baca juga: BREAKING NEWS: Mohamad Daud Adam Kades Buhu Gorontalo Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan
Namun, keterbatasan ruang menjadi kendala utama baginya.
"Kalau tempatnya besar, saya bisa pajang lebih banyak kursi-kursi buatan saya. Karena sempit, jadi hanya bisa jualan seadanya kalau kursi yang dapat saya pajang hanya ini ," keluhnya.
Untuk memasarkan produknya, Iwan memanfaatkan media sosial seperti marketplace Facebook dan aplikasi jual-beli online.
Ia mengaku pendapatannya tidak menentu karena pekerjaan yang bergantung pada pesanan.
Soal harga, jasa jahit sandal dan sepatu Iwan bervariasi.
"Kalau hanya jahit biasa itu Rp15.000 sampai Rp30.000. Tapi kalau sudah ba prandel (perbaikan ekstrem) bisa sampai Rp75.000 bahkan Rp150.000," katanya.
Saat ini, Iwan tinggal bersama istri dan satu anaknya di belakang lapak. Ia berharap ke depan usahanya semakin sukses agar bisa memberi kehidupan lebih layak untuk keluarganya.
Harapan lainnya, ia ingin keterampilan menjahit ini tetap diwariskan ke generasi muda.
"Pesan saya untuk anak muda yang tidak mau bekerja sebenarnya ini peluang besar bagi anak muda. Saya sering ajarkan ke anak-anak, tapi namanya anak-anak ya begitu," ujar Iwan.
"Padahal saya bilang, keterampilan begini besar manfaatnya. Di mana saja kita duduk, asal ada jarum dan benang, tetap bisa dapat pemasukan," tambahnya.
Bagi Iwan, pekerjaan menjahit mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang.
Namun baginya, pekerjaan ini adalah ladang rezeki yang halal dan penuh berkah.
"Biasa memang dilihat, pekerjaan ini hina. Tapi insyaallah mulia di hadapan Allah. Yang penting halal, dan alhamdulillah banyak juga yang datang menjahit di sini," tutupnya sembari tersenyum lebar.
(TribunGorontalo.com/Peserta Magang dari UNG)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.