Sabtu, 14 Maret 2026

Human Interest Story

Sheptiani Rusmaningtias Sosok Pemudi Gorontalo Wakili Indonesia di Seminar Jepang, Angkat Isu Gender

Sheptiani Rusmaningtias, pemudi Gorontalo yang kini aktif sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di KBRI Norwegia.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Sheptiani Rusmaningtias Sosok Pemudi Gorontalo Wakili Indonesia di Seminar Jepang, Angkat Isu Gender
Dok pribadi Sheptiani Ruamaningtias
MAHASISWA BERPRESTASI - Sheptiani Rusmaningtias saat berada di Jepang. Sheptiani mewakili Indonesia dalam seminar internasional bertajuk “Innovative Education and Learning Resource” di Fukuyama, Jepang. 

(Laporan: Mawar Hardiknas Tasya Datunsolang/Peserta Magang dari UNG)

TRIBUNGORONTALO.COM – Sheptiani Rusmaningtias, pemudi Gorontalo yang kini aktif sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di KBRI Norwegia.

Sheptiani Rusmaningtias lahir di Nganjuk, 25 September 1997. 

Selain menjadi pengajar BIPA, ia juga dikenal sebagai penulis cerita anak yang telah bermitra dengan Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo sejak tahun 2022. 

Sheptiani saat ini sedang menyelesaikan studi magister di bidang Pendidikan Dasar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Sheptiani baru-baru ini mewakili Indonesia dalam seminar internasional bertajuk “Innovative Education and Learning Resource” di Fukuyama, Jepang. 

Dalam kesempatan tersebut, ia mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Exploring Gender Representation in Children’s Literature: A Systematic Literature Review on Educational Impact.”

Seminar tersebut berlangsung di Fukuyama, Jepang. 

Selain menjadi peserta, Sheptiani juga aktif berdiskusi dengan para peneliti dari berbagai negara, seperti Malaysia, hingga Jepang.

Penelitian yang dibawakan Sheptiani menyoroti bagaimana representasi gender dalam sastra anak dari tahun 2002 hingga 2024 kerap kali masih menampilkan bias.

Ia menemukan bahwa karakter laki-laki sering kali digambarkan sebagai tokoh utama, kuat, dan heroik. Sementara karakter perempuan cenderung diidentikkan dengan sifat lemah lembut, penurut, dan terbatas pada peran domestik.

“Karena karya-karya ini dikonsumsi oleh anak-anak, sangat penting untuk menyajikan narasi yang tidak bias gender,” ujar Sheptiani.

Dalam konferensi tersebut, Sheptiani juga berkolaborasi dengan dosen-dosen dari Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Negeri Gorontalo. 

Baca juga: Try Sutrisno Desak Gibran Mundur dari Jabatan Wakil Presiden, Didukung Ratusan Pensiunan TNI

Sheptiani mempresentasikan hasil kolaborasi riset lintas kampus dan mempromosikan budaya Gorontalo dengan mengenakan busana karawo yang dimodifikasi menjadi jas formal.

“Selain mempresentasikan riset, saya juga mempromosikan budaya Gorontalo. Jas kerawang yang saya kenakan mendapat apresiasi dari peserta konferensi,” tuturnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved